PejuangKantoran.com - "Don't make me hungry, you wouldn't like me when I'm hungry." Ini memang kalimat plesetan dari kata-kata terkenal tokoh Bruce Banner dari komik Marvel.
Bruce akan berubah menjadi Hulk ketika emosinya meledak, sehingga ia sering memperingatkan: "Don't make me angry, you wouldn't like me when I'm angry."
Namun kalimat plesetan itu bukan sekadar candaan. Faktanya, ada orang yang memang jadi mudah kesal, sensitif, atau nggak sabaran kalau belum makan. Kondisi mudah emosi ketika lapar ini sering disebut dengan istilah hangry, gabungan dari kata hungry (lapar) dan angry (marah).
Baca Juga: Mengapa Davos, Kota Kecil di Pegunungan Alpen Swiss Ini Dipilih sebagai Tuan Rumah WEF 2026?
Meski kondisi ini sudah dialami manusia sejak lama, penelitian ilmiah tentang hubungan antara rasa lapar dan suasana hati ternyata masih sangat terbatas.
Menurut Nils Kroemer, Profesor Psikologi Medis dari University of Tübingen dan University of Bonn, sebagian besar riset sebelumnya lebih banyak berfokus pada pasien dengan gangguan metabolisme atau gangguan makan.
Rasa lapar sering dianggap sebagai proses fisiologis yang terlalu dasar, sehingga dampaknya pada emosi sehari-hari kurang diperhatikan.
Berangkat dari hal tersebut, Kroemer dan tim peneliti dari bidang psikologi dan kesehatan mental mencoba meneliti bagaimana orang yang berbeda merespons rasa lapar.
Mereka ingin memahami mengapa ada orang yang tetap tenang saat lapar, sementara yang lain langsung mudah emosi ketika lapar. Penelitian ini juga diharapkan memberi pelajaran praktis, termasuk bagi orang tua dengan anak kecil.
Dalam dunia hewan, rasa lapar bisa memicu perilaku mereka. Hewan yang lapar akan bergerak lebih aktif, menjelajah lebih jauh, dan berusaha keras untuk mendapatkan makanan sampai terkadang jadi lebih buas.
Baca Juga: Berkas yang Diperlukan sebagai Syarat Mendaftar Beasiswa LPDP 2026 untuk Semua Bidang
Untuk melihat apakah pola serupa terjadi pada manusia, para peneliti membekali 90 orang dewasa sehat dengan alat pemantau glukosa selama satu bulan. Glukosa merupakan sumber energi utama bagi tubuh dan otak, dan alat ini dapat mencatat kadar gula darah setiap beberapa menit.
Selain itu, para peserta juga diminta mengisi laporan tentang suasana hati mereka hingga dua kali sehari. Mereka menilai seberapa lapar atau kenyang yang dirasakan, serta kondisi emosinya saat itu.
Hasilnya cukup mengejutkan. Ternyata, suasana hati yang memburuk bukan hanya dipicu kadar gula darah yang rendah, tetapi juga ketika seseorang menyadari dan mengakui bahwa dirinya lapar.
Selain itu, orang yang lebih peka dalam mengenali kondisi tubuhnya (termasuk perubahan energi) cenderung mengalami lebih sedikit perubahan suasana hati.
Artikel Terkait
WFH dan PJJ di Jakarta Berlaku hingga 28 Januari 2026 Akibat Cuaca Ekstrem
Alexandra Palt: Tantangan Perempuan di Dunia Kerja Tidak Seberat Realita Perempuan di Dunia Nyata
10 Latihan Agar Lutut Kamu Sebagai Pelari Menjadi Lebih Kuat dan Terhindar Dari Cedera
Menurut Sebuah Studi, Jam Kerja Lebih Panjang Tidak Lalu Menjadi Lebih Produktif
Beasiswa LPDP 2026 Sudah Dibuka, Simak Bidang STEM dan Non-STEM yang Bisa Kamu Pilih!
Hampir Setahun Tak Merilis Ponsel Android Lagi, Asus bakal Tinggalkan Lini Smartphone?
Revalina S. Temat Akui Perannya di 'Tuhan, Benarkah Kau Mendengarku?' Tidak Mudah Dimainkan