3. Pola Makan
Pola makan itu tidak sama dengan jumlah yang dimakan. Yang berpengaruh bukan banyaknya makan, tetapi jenis lemak dan pola konsumsinya:
| Pola makan | Dampak kolesterol |
| Lemak trans, gorengan berulang, makanan ultra-proses | LDL naik tajam |
| Lemak jenuh berlebih (jeroan, santan pekat, daging olahan) | LDL naik |
| Lemak tak jenuh (ikan, alpukat, kacang) | LDL turun / HDL naik |
4. Aktivitas Fisik dan Komposisi Tubuh
- Olahraga rutin meningkatkan HDL (kolesterol “baik”) dan membantu menurunkan LDL.
- Gemuk aktif namun banyak bergerak, bisa punya profil kolesterol yang lebih baik.
- Kurus tapi sedentary (mager, banyak duduk) menyebabkan metabolisme lemak buruk.
Oleh karena itu muncul istilah skinny fat, kurus tapi lemak visceral tinggi dan metabolisme buruk.
Baca Juga: Mengapa Minum Kopi dari Mesin Kopi di Kantor Diam-diam Bisa Meningkatkan Kolesterol?
5. Lemak Visceral vs Lemak Subkutan
Tidak semua lemak sama:
- Lemak subkutan (di bawah kulit): relatif kurang berbahaya.
- Lemak visceral (di perut, sekitar organ): sangat berpengaruh pada kolesterol dan risiko jantung
Orang kurus bisa punya lemak visceral tinggi, sedangkan orang gemuk bisa dominan lemak subkutan.
6. Faktor Usia, Hormon, dan Kondisi Medis
Kolesterol juga dipengaruhi oleh:
- Usia (cenderung naik setelah 40–50 tahun).
- Hormon (menopause, testosteron rendah).
- Kondisi medis: hipotiroid, diabetes, gangguan hati.
- Obat tertentu (steroid, hormon, dan lain-lain).
***
Artikel Terkait
Ternyata, Ini Penyebab Kolesterol Tinggi di Usia Muda. Ini Cara Mengatasinya!
Stigma Santan Biang Kerok Kolesterol, Hapus Yuk!
7 Buah Ajaib Penurun Kolesterol, Mudah Didapat dan Menyehatkan
Minum Air Putih Sebelum Makan Membantu Menurunkan Berat Badan?
Buat yang Lagi Diet: Intermittent Fasting Lebih Efektif dari Sekadar Mengurangi Kalori?
Ingin Menurunkan Berat Badan Lebih Efektif? Lakukan Japanese Walking yang Sudah Terbukti Efektif dan Mudah