Perut Keroncongan, Meski Memalukan Tapi Ternyata Mekanisme Sehat Tubuh Kita

photo author
Sigit Triwahyu, Pejuang Kantoran
- Kamis, 26 Februari 2026 | 16:30 WIB
Perut keroncongan kadang membuat malu, namun ternyata itu mekanisme sehat tubuh kita. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)
Perut keroncongan kadang membuat malu, namun ternyata itu mekanisme sehat tubuh kita. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)

Karena itu saat menjelang berbuka puasa, “krucuk-krucuk” menjadi lebih sering.

  1. Pola Makan Tertentu

Saat pola makan kamu tidak teratur, maka akan mendorong terjadi perut keroncongan. Misal, ketika biasanya jam makan siang kamu tapi kamu tidak makan, tubuh tetap mengira ada jadwal makan.

Ini mendorong hormon lapar tetap naik saat itu dan terjadilah keroncongan.

Selain itu, pola makan dengan menu protein dan lemak, memperlambat pengsongan lambung. Ini mendorong jarak atau interval m akan lebih panjang.

Jika jarak atau interval makan panjang menyebabkan fase lambung kosong lebih lama.

Ini yang menyebabkan MMC lebih sering terdengar.

Selain itu, makanan tinggi FODMAP, seperti kacang, kol, bawang, atau minuman berkarbonasi menyebabkan produksi gas dalam lambung meningkat. Ini juga menyebabkan suara keroncongan lebh lantang.

FODMAP adalah makanan yang mengandung karbohidrat rantai pendek yang mudah difermentasi di usus dan sulit diserap dengan baik, sehingga sering menimbulkan gas, kembung, nyeri perut, atau diare pada orang yang sensitif.

FODMAP singkatan dari Fermentable Oligosaccharides Disaccharides Monosaccharides And Polyols.

Baca Juga: Kenali Gejala, Faktor Risiko, dan Pengobatan GERD Agar Kamu Bisa Terhindar Dari Penyakit Asam Lambung Ini

Stres juga  menjadi pemicu perut keroncongan. Saat kamu stres, sistem saraf simpatis menjadi aktif. Dan ini menyebabkan perubahan motilitas usus yang bisa membuat suara usus lebih terasa atau terdengar.

Namun ternyata perut keroncongan atau suara “krucuk-krucuk” terjadi tidak selalu berarti perut lapar. Selain karena lapar, perut keroncongan bisa dipicu oleh proses pencernaan setelah makan, adanya penumpukan gas, atau karena diare atau gangguang cerna ringan.

Cara Mengatasi

Meskipun perut keroncongan tidak berbahaya, namun kamu wajib waspada ketika disertai dengan nyeri perut yang hebat/menetap, perut kembung keras dan tegang, muntah berulang, tidak bisa buang angin atau BAB, diare berat atau berdarah, dan demam.

Segera ke dokter jika mengalaminya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Sigit Triwahyu

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X