Tidak Ada yang Positif dengan Toxic Positivity, Ini Bahayanya Kalau Perusahaan Mendukungnya

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Sabtu, 4 November 2023 | 11:08 WIB
Ilustrasi: Memaksa karyawan terus-menerus berpikir positif dalam berbagai keburukan yang terjadi adalah ciri khas lingkungan toxic positivity. (Freepik)
Ilustrasi: Memaksa karyawan terus-menerus berpikir positif dalam berbagai keburukan yang terjadi adalah ciri khas lingkungan toxic positivity. (Freepik)

Semakin kamu merasa tidak sepaham dengan para pimpinan dan manajemen, kamu akan semakin merasa dikucilkan. Ketika rekan kerja juga berada dalam situasi yang sama, produktivitas pun menurun secara keseluruhan.

Wajib diingat bahwa sebuah perusahaan tidak bisa membuat semua orang selalu bahagia —atau berpura-pura bahagia— selamanya. Cepat atau lambat, karyawan akan memberontak.

Baca Juga: Daripada Kena Sanksi, Segera Lakukan Uji Emisi Gratis di Beberapa Bengkel Resmi Berikut

Bagaimana mengatasi toxic positivity?

Jangan takut untuk membela diri sendiri. Tetapkan batasan yang tegas jika kamu dipaksa untuk menjadi ceria dan bahagia. Jujurlah tentang bagaimana kamu merasa diperlakukan di tempat kerja.

Perlihatkan pada atasan dan rekan kerja lain bahwa kamu menghargai pola pikir mereka. Namun, ini harus bersifat timbal balik. Mereka juga harus mendukung cara berpikir, perkataan, dan tindakanmu, meskipun tidak sesuai dengan perusahaan.

Pimpinan perusahaan juga harus mengambil tindakan. Jika tidak, mereka hanya akan memiliki karyawan yang terlalu takut untuk berbicara.

Banyak karyawan yang akan mulai mencari pekerjaan baru sehingga sulit untuk mempertahankan mereka yang bertalenta.

Para manajer harus menjangkau timnya serta melakukan pembicaraan yang terbuka dan jujur. Mereka harus mendukung pola pikir karyawannya, bahkan jika itu tidak sejalan dengan budaya yang berlaku.

Baca Juga: Duh, Yang Mau Resign Sebaiknya Tahan hingga 2024 Selesai! Ini Alasannya

Dengan tidak adanya toxic positivity dalam perusahaan, karyawan tidak akan dipaksa lagi untuk merasakan apa yang tidak diinginkan.

Saat karyawan tidak perlu lagi berpura-pura bahagia, mereka akan benar-benar bahagia menjalani pekerjaannya. (Elga Windasari)

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Forbes

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X