Perbedaan Mendasar dan Penting Antara Questioning Assumption dengan Skeptis

photo author
Sigit Triwahyu, Pejuang Kantoran
- Selasa, 13 Mei 2025 | 17:38 WIB
Bedakan antara questioning assumption dengan skeptis walaupun  sekilas mirip. (Freepik)
Bedakan antara questioning assumption dengan skeptis walaupun sekilas mirip. (Freepik)

Pejuangkantoran.comQuestioning assumption (mempertanyakan asumsi) menjadi sangat penting dalam dunia bisnis, karena mampu mencegah orang memutuskan sesuatu hanya berdasarkan asumsi tanpa disadari.

Jadi, questioning assumption adalah teknik berpikir kritis yang digunakan untuk menantang dan mengevaluasi keabsahan asumsi-asumsi atau anggapan dasar yang sering kali diterima begitu saja dalam suatu situasi, argumen, atau cara berpikir.

Ketika ada asumsi dan kamu pertanyakan melalui questioning assumption, maka sebenarnya kamu sedang mengkritisi sebuah keputusan atau argumen. Harapannya, dengan kritikan tersebut bisa diterima semua pihak yang berkepentimgan secara masuk akal dan memberikan solusi terbaik bagi semuanya.

Questioning assumption atau mempertanyakan asumsi pasti akan mengajukan pertanyaan seperti “Apakah hal ini sudah benar?”, “Mengapa orang lain menganggap tersebut benar?”, “Adakah sudat pandang lain terhadap keputusan tersebut?”, “Bagaimana jika asumsi ini tidak tepat?”, dan sebagainya.

Baca Juga: Questioning Assumption atau Mempertanyakan Asumsi Itu Penting Bagi Dunia Bisnis. Mengapa?

Jika melihat tersebut, maka questioning assumption terdengar seperti pola pikir skeptis, keduaya mempertanyakan sesuatu. Akan tetapi ternyata ada sejumlah perbedaan yang cukup penting antara mempertanyakan asumsi dengan skeptis.

  1. Tujuan
  • Questioning Assumptions:
    Tujuannya adalah membuka kemungkinan baru dan mengembangkan pemahaman yang lebih baik. Ini adalah bagian dari proses berpikir kritis dan inovatif.
  • Skeptis:
    Tujuannya adalah untuk meragukan atau menguji kebenaran dari suatu klaim. Skeptisisme lebih fokus pada validitas atau keabsahan.
  1. Sikap Mental
  • Questioning Assumptions:
    Bersifat terbuka dan eksploratif. "Bagaimana jika ini tidak benar? Apa alternatifnya?" Tujuannya bukan sekadar membantah, tapi mencari kemungkinan dan solusi baru.
  • Skeptis:
    Bersifat curiga atau tidak mudah percaya. "Saya tidak yakin itu benar sampai dibuktikan." Bisa membangun, tapi juga bisa jadi penghambat jika terlalu ekstrem.
  1. Pendekatan
  • Questioning Assumptions:
    • Proaktif;
    • Strategis dan reflektif;
    • Digunakan untuk mengatasi bias, kebiasaan lama, atau status quo.
  • Skeptis:
    • Reaktif;
    • Fokus pada menilai apakah sesuatu itu benar atau tidak;
    • Bisa membantu membongkar penipuan atau klaim palsu.

 Baca Juga: Beda Analytical Thinking dan Critical Thinking, Dua Skill yang Dibutuhkan untuk Mengambil Keputusan

Contoh Kasus

Kasus: Penjualan produk baru menurun. Sebuah perusahaan baru saja meluncurkan produk baru, tapi penjualannya lebih rendah dari perkiraan.

 

Pendekatan: Questioning Assumptions

Tim pemasaran berkata:
"Mungkin kita berasumsi pelanggan sudah paham cara menggunakan produk ini."

Pemikiran lanjutan:

  • Apakah benar pelanggan mengerti kegunaan produk ini?
  • Apakah kita terlalu cepat menganggap semua orang membaca panduan produk?
  • Bagaimana jika kita ubah pendekatan edukasinya?
  • Apakah penurunan penjualan benar-benar karena harga, atau karena komunikasi manfaat produk tidak jelas?

Tujuan: Mencari akar masalah dan membuka alternatif solusi dengan mengevaluasi asumsi tersembunyi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Sigit Triwahyu

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X