PejuangKantoran.com - Zaman sekarang, platform profesional seperti LinkedIn menjadi etalase bagi pencapaian karier.
Sepertinya inilah yang membuat beberapa orang memoles profil di LinkedIn secara berlebihan. Misalnya, dengan menambahkan gelar yang tidak ada, memperpanjang masa kerja, bahkan mengklaim pengalaman yang tidak pernah terjadi.
Lalu, bagaimana jika kamu mengetahui ada rekan kerja yang melebih-lebihkan atau bahkan berbohong dalam profil LinkedIn miliknya?
Baca Juga: Program Djarum Beasiswa Plus 2025 Terbuka untuk Mahasiswa S1 atau D4 yang Sedang Berkuliah
Meski ini mungkin terlihat sebagai bentuk promosi diri, tetapi jika informasi yang ditampilkan tidak sesuai fakta, konsekuensinya bisa cukup besar.
Apalagi jika informasi tersebut menjadi pertimbangan dalam rekrutmen atau kenaikan jabatan.
Konsekuensi dari informasi yang menyesatkan
Para ahli karier menyebutkan bahwa tekanan pasar kerja saat ini mendorong banyak orang untuk “memoles” citra profesionalnya. Namun, ini tetap mengandung risiko.
Menurut Patrice Williams-Lindo, CEO Career Nomad, membesar-besarkan pencapaian bukan hanya menyesatkan orang lain, tetapi juga bisa melemahkan kepercayaan diri pelaku itu sendiri.
Sementara itu, Presiden American Staffing Association, Stephen Dwyer, menegaskan bahwa informasi yang tidak akurat dapat merusak reputasi dan kepercayaan lebih cepat dari apa pun.
Baca Juga: Nggak Cuma Ngagetin dengan Jumpscare-nya, Film Dasim Juga Bikin Penasaran dengan Unsur Misterinya
Padahal, rekruter dan pemberi kerja tidak lagi mengandalkan LinkedIn sebagai sumber informasi final, melainkan hanya sebagai pembuka percakapan.
Jika profil kamu terlalu “sempurna”, ini seringkali justru mendorong rekruter untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Lalu, jika ada ketidaksesuaian, reputasi bisa tercoreng dan peluang profesional bisa tertutup.
Selain itu, informasi palsu juga bisa berdampak pada kandidat lain yang sebenarnya lebih memenuhi kriteria, tetapi tersingkir karena kompetitor yang tampil lebih meyakinkan di atas kertas.
Bagaimana cara menyikapinya?
Artikel Terkait
Siapa yang Berisiko Dead Butt Syndrome dan Cara Mengatasinya
Heel Striking atau Gaya Berlari Dengan Tumit Tidak Salah. Berikut Kata Pakarnya!
Digital Channel BRI Dinilai yang Terbaik Versi Bank Service Excellence Monitor 2025
Cara Ampuh Memotong Pembicaraan Rekan Kerja yang Terlalu Dominan Saat Meeting
Questioning Assumption atau Mempertanyakan Asumsi Itu Penting Bagi Dunia Bisnis. Mengapa?
Holding UMi BRI Dukung Pemerataan Ekonomi, Salurkan Pembiayaan kepada 35,4 Juta Pelaku Usaha dan Jangkau 182 Juta Nasabah Tabungan
Perbedaan Mendasar dan Penting Antara Questioning Assumption dengan Skeptis