Hal ini menciptakan dilema bagi wanita untuk menyeimbangkan antara dianggap ramah dan profesional.
Karena jika dianggap terlalu tegas, wanita sering mendapatkan reaksi negatif karena dianggap melanggar stereotip gender yang ada.
Proses perekrutan harus lebih objektif
Ironisnya, kandidat yang menerima komentar terkait kemampuannya sering tidak lolos seleksi. Sementara mereka yang diterima lebih sering dipuji karena kepribadian serta kesan positif yang ditampilkan.
Temuan ini menunjukkan bahwa feedback wawancara cenderung menjadi alat untuk membenarkan keputusan menolak seseorang, bukan untuk menilai kompetensi secara objektif.
Baca Juga: Keuntungan dan Kerugian Statement of Work dalam Perekrutan Karyawan Kontrak
Snyder menegaskan bahwa mempekerjakan seseorang hanya karena merasa cocok dan nyaman bekerja sama bukanlah cara terbaik. Kriteria ini justru bisa menghilangkan kesempatan kandidat hebat yang berbeda dari mayoritas.
Temuan dari laporan Textio menunjukkan bahwa praktik wawancara yang benar-benar adil dan menitikberatkan pada keterampilan kandidat masih jarang diterapkan.
Untuk ke depannya, diharapkan proses perekrutan menjadi lebih objektif.
Caranya adalah dengan memberikan pertanyaan yang seragam kepada seluruh kandidat dengan fokus pada kompetensi yang dibutuhkan, bukan pada kesan personal atau kesamaan preferensi. ***
Artikel Terkait
Begini Cara Kerja Applicant Tracking System untuk Pelamar Maupun Manajer Perekrutan
Menurut Survei, Manajer Perekrutan Suka Berbohong. Ini Cara untuk Mengetesnya!
Ini Alasan di Balik Pertanyaan 'Apa yang Memotivasi Kamu?' saat Wawancara Kerja
Perbedaan Introvert dan Ekstrovert saat Wawancara Kerja: Kapan Harus Diam dan Kapan Harus Bicara?
Jawaban Terbaik Saat Ditanya “Mengapa Mencari Pekerjaan Baru?” saat Wawancara Kerja
3 Cara Cerdas Menjawab Pertanyaan yang Kamu Tidak Tahu Jawabannya saat Wawancara Kerja