Budaya Kerja yang Bikin Kamu Dianggap Tidak Pernah Cukup dan saat Kamu Benar-Benar Dihargai

photo author
Elga Windasari, Pejuang Kantoran
- Jumat, 26 September 2025 | 11:14 WIB
Ilustrasi: Perusahaan yang diam-diam menerapkan budaya kerja tidak pernah cukup akan membuat karyawan merasa tidak dihargai. (Freepik/Pornsawan)
Ilustrasi: Perusahaan yang diam-diam menerapkan budaya kerja tidak pernah cukup akan membuat karyawan merasa tidak dihargai. (Freepik/Pornsawan)

PejuangKantoran.com - Di banyak kantor, budaya kerja seringkali tidak terlihat jelas dari luar. Masalahnya juga bukan selalu soal atasan yang galak atau drama HR yang heboh.

Kadang, masalahnya jauh lebih halus dan salah satunya adalah munculnya budaya “tidak pernah cukup”. Budaya ini bisa terlihat dalam hal-hal kecil, misalnya:

• Evaluasi kinerja yang cuma membahas kelemahan tanpa mengakui keberhasilan.
• Pencapaian hanya disinggung sebentar di rapat tim, lalu cepat dilupakan.
• Pertemuan besar yang lebih sibuk merayakan target angka ketimbang menghargai orang-orang yang mencapainya.
• Umpan balik yang baru muncul kalau ada kesalahan.
• Perasaan bahwa kamu harus terus bekerja keras hanya untuk sekadar bertahan.

Baca Juga: Bukan Cuma ChatGPT, OpenAI Siapkan Gadget Pintar. Mulai dari Speaker ChatGPT hingga Pin AI!

Karyawan yang bekerja di perusahaan dengan budaya kerja “tidak pernah cukup” ini, biasanya akan berkata “Rasanya pekerjaan saya nggak pernah cukup baik” atau “Kerja sebagus apa pun sering nggak dihargai”.

Jika kamu berada di perusahaan dengan budaya semacam ini, lama-kelamaan kamu akan merasa lelah, kehilangan kepercayaan diri, bahkan ragu dengan kemampuan sendiri. Kamu mungkin jadi enggan mengutarakan ide atau memilih menahan diri supaya terlihat “aman”.

Seperti apa rasanya budaya “kamu cukup”?

Di sisi lain, ada juga perusahaan yang memiliki budaya kerja “kamu cukup” kepada karyawannya. Di tempat seperti ini, kamu bisa merasa dihargai sebagai manusia, bukan sekadar mesin kerja.

Tanda-tandanya antara lain:

• Pengakuan diberikan dengan tulus, bukan sekadar formalitas.
• Umpan balik jujur dan membangun, bukan asal basa-basi atau hanya muncul saat ada masalah.
• Kesalahan dianggap bagian wajar dari proses belajar, bukan hukuman.
• Rasa hormat dan kebaikan jadi standar utama dalam berinteraksi.

Memiliki budaya seperti ini bukan berarti standar kerja jadi rendah. Ekspektasi akan tetap tinggi, tetapi ada rasa percaya bahwa karyawan mampu mencapainya.

Baca Juga: Film 'Tuhan, Benarkah Kau Mendengarku?' Jadi Comeback-nya Revalina S. Temat di Dunia Akting

Ini membuat kamu tidak dipaksa terus-menerus membuktikan diri. Sebaliknya, kamu diberi ruang untuk menunjukkan kemampuan terbaik, bahkan di hari-hari ketika energi tidak 110%.

Hasilnya, kamu akan menjadi lebih termotivasi, ingin bertahan lebih lama, dan berkontribusi maksimal karena merasa dihargai.

Pada akhirnya, orang tidak berkembang di tempat yang membuat mereka merasa dianggap “tidak pernah cukup”. Mereka justru berkembang ketika merasa dipercaya dan diakui, dan bukan malah kehilangan kepercayaan diri.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Psychology Today

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X