Jangan Takut untuk Bilang ‘Tidak Setuju’, Ini Cara Elegan Menyampaikan Perbedaan Pendapat di Kantor

photo author
Elga Windasari, Pejuang Kantoran
- Rabu, 29 Oktober 2025 | 14:08 WIB
Beda pendapat adalah wajar dalam sebuah organisasi, namun  jika kamu tidak setuju dengan satu pendapat orang lain, samapikan dengan cara yang baik. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)
Beda pendapat adalah wajar dalam sebuah organisasi, namun jika kamu tidak setuju dengan satu pendapat orang lain, samapikan dengan cara yang baik. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)

Pejuangkantoran.com - Bayangkan kalau dunia kerja itu seperti dunia Barbie yang serba sempurna. Semua orang bahagia, saling mendukung, dan tidak pernah berdebat.

Namun, kita hidup di dunia nyata, di mana rekan kerja bisa punya pandangan berbeda, ide bos kadang terasa tidak masuk akal, atau proyek tim terasa kurang matang.

Meskipun tidak selalu nyaman, perbedaan pendapat di kantor itu sebenarnya sangat penting.

Mengapa tak setuju itu justru baik?

Menurut Kraig Kleeman, pendiri The New Workforce, tidak setuju dengan orang lain di tempat kerja bukan hal buruk. Justru, dari situlah muncul ide-ide baru dan solusi yang lebih baik.

Masalahnya, banyak dari kita takut dianggap kasar, menyinggung, atau membuat suasana kerja jadi tegang.

Kleeman menganalogikan kantor itu seperti sebuah mangkuk salad besar yang penuh dengan berbagai pandangan dan latar belakang. Dia menganggap kondisi seperti ini bagus.

”Tetapi juga membuat kita khawatir menyinggung orang lain secara tidak sengaja,” kata Kleeman.

Baca Juga: Feedback ke Atas: Saat Karyawan Boleh Memberikan Pendapat ke Manajer, Ini Manfaatnya yang Dirasakan!

Memang, zaman sekarang berbicara jujur bisa terasa menegangkan. Michael Gibbs, CEO Go Cloud Careers, mengatakan bahwa dunia kerja jadi makin sensitif setelah pandemi.

“Sekarang orang lebih berhati-hati dengan apa yang dikatakan. Salah ngomong sedikit saja, bisa viral, dan karier pun taruhannya,” ujar Gibbs.

Budaya cancel culture seperti ini membuat banyak orang memilih diam daripada jujur, karena takut “dihujat” atau disalahpahami. 

Cancel culture dalam konteks ini adalah ketika seseorang “dimusuhi” karena ucapan, tindakan, atau perilaku yang dianggap berbeda dari umumnya orang di kantor..

Psikolog klinis Lienna Wilson menambahkan, ketakutan seperti ini makin sering muncul. Banyak orang takut berbicara karena khawatir dianggap rasis, seksis, atau menyinggung kelompok tertentu.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Sigit Triwahyu

Sumber: Welcome to the Jungle

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X