Belajar Kepemimpinan dari Mandela, Jobs, dan Bezos Bahwa Quit adalah Salah Satu Keterampilan Untuk Itu

photo author
Sigit Triwahyu, Pejuang Kantoran
- Senin, 3 November 2025 | 10:15 WIB
Mandela, Jobs, dan Bezos mengejarkan bahwa  (Governor-General of Australia (Nelson Mandela); Van Ha - U.S. Space Force  (Jeff Bezos); Matthew Yohe (Stev Jobs))
Mandela, Jobs, dan Bezos mengejarkan bahwa (Governor-General of Australia (Nelson Mandela); Van Ha - U.S. Space Force (Jeff Bezos); Matthew Yohe (Stev Jobs))

Pejuangkantoran.comNelson Mandela, dalam sebuah artikel di Time.com tahun 2008 yang berisi tentang 8 pelajaran kepemimpinannya ini pernah menyebutkan bahwa ia punya prinsip “Quitting is leading too.”

Konteks prinsipnya ini adalah ketika ia tidak “ngambek” dan ngotot meneruskan ide batas minimun pemilih di usia 14 tahun, karena tidak ada yang mendukung idenya ini sama sekali.

Ini adalah pelajaran kepemimpinan dari tokoh Afrika Selatan ini, bahwa mengetahui dan paham kapan harus berhenti itu adalah salah satu keterampilan dalam kepemimpinan (leadership).

Dalam dunia kerja, hal ini kerap kali kita temui, karena dalam konteks ini quit tak sekadar berarti berhenti bekerja, namun juga berbagai berbagai bentuk keputusan untuk menghentikan sesuatu yang sudah tidak lagi efektif, relevan, atau sehat.

Misal, Jeff Bezos menghentikan banyak proyek internal Amazon yang tidak menguntungkan, seperti Fire Phone. Namun keputusannya itu membuka jalan bagi kesuksesan Amazon Web Services (AWS).

Baca Juga: Meski Masih Jadi Karyawan Entry Level, 5 Leadership Skill Ini Perlu Kamu Miliki

Contoh lain, Steve Jobs saat kembali ke Apple. Saat itu, ia memotong lebih dari 70% produk Apple agar fokus hanya pada beberapa yang unggul. Dan langkah langkah “quit” atau “berhenti” ini menyelamatkan perusahaan.

Keputusan-keputusan yang diambil Bezos maupun Jobs ini sudah pasti banyak yang menentang di dalam internal perusahaan mereka. Namun, sebagai pimpinan, mereka harus melihat secara helicopter view, melihat secara keseluruhan bukan parsial.

Tentu saja itu keputusan yang berat. Namun “quit” atau berhenti dalam kasus seperti ini menunjukkan bahwa “berhenti” itu:

  1. Bukan tentang menyerah, tapi tentang keputusan strategis

Seorang pemimpin yang baik tidak keras kepala mempertahankan sesuatu yang sudah tidak efektif. Kadang, proyek, strategi, atau bahkan hubungan kerja sudah tidak lagi memberi nilai tambah.
Mengetahui kapan berhenti berarti meyadari berhenti bukan karena lemah, tapi karena sadar energi yang dipunyai bisa digunakan untuk hal yang lebih berdampak.

Contoh:
Seorang manajer menyadari produk yang dikembangkan selama 2 tahun tidak menemukan pasar. Alih-alih terus membakar biaya, ia memutuskan menghentikan proyek dan mengalihkan sumber daya ke ide baru.

Baca Juga: 3 Tanda Seseorang Punya Keterampilan Leadership yang Baik, Cocok Jadi Pemimpin!

  1. Menunjukkan kedewasaan dan keberanian

Banyak orang tetap “bertahan” karena takut dianggap gagal. Namun pemimpin sejati berani mengakui ketika sesuatu tidak berjalan, dan menutupnya dengan bijak.

Keputusan untuk berhenti sering kali lebih sulit daripada terus melanjutkan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Sigit Triwahyu

Sumber: weforum.org, Berbagai Sumber, Time.com

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X