PejuangKantoran.com - Berbagai laporan belakangan ini menyebut artificial intelligence (AI) berpotensi menggantikan sebagian besar pekerjaan manusia.
Setelah menganalisis ratusan ribu percakapan dengan chatbot Co-Pilot, Microsoft menyimpulkan bahwa AI bisa menyelesaikan setidaknya 90% pekerjaan sejarawan dan pemrogram, 80% pekerjaan sales dan jurnalis, serta 75% pekerjaan DJ dan data scientist.
Angka ini tentu terdengar mengkhawatirkan, terutama bagi pekerja kantoran.
Baca Juga: 10 Pekerjaan Yang Bakal Tren Secara Global di Tahun 2026
Namun, temuan lain justru menunjukkan sisi berbeda dari penggunaan AI di tempat kerja. Studi yang dipublikasikan Harvard Business Review menyatakan, bukannya meningkatkan efisiensi, AI generatif justru menurunkan produktivitas di tempat kerja.
Penyebab utamanya adalah munculnya fenomena baru yang disebut “workslop”.
Apa itu workslop?
Para peneliti mendefinisikan workslop sebagai konten hasil AI yang kelihatannya bagus, tapi sebenarnya tidak benar-benar membantu menyelesaikan pekerjaan. Dengan kata lain, kelihatannya saja rapi dan profesional, tetapi isinya sampah (slop).
Masalahnya bukan pada penggunaan AI untuk menyempurnakan pekerjaan yang sudah baik. Workslop muncul ketika AI menghasilkan konten yang tidak bermanfaat, isinya nanggung, dan tidak memberi konteks yang diperlukan untuk proyek yang sedang dikerjakan.
Hal ini bisa muncul dalam berbagai bentuk, dari email, laporan, slide presentasi, hingga potongan kode. Karena AI mampu menghasilkan teks dengan cepat dan kesannya meyakinkan, banyak pekerja mencomotnya begitu saja tanpa mengecek lagi.
Baca Juga: Berapa Kenaikan Gaji yang Sebaiknya Kita Minta? Begini Hitungan Angka yang Masuk Akal
Padahal, dampaknya bisa cukup luas. Dalam survei tersebut, 40% responden mengaku menerima "konten sampah" itu dalam satu bulan terakhir.
Salah satu dampaknya yang paling menyebalkan, beban kerja penerima konten malah bertambah. Sebab mereka harus mengoreksi, menafsirkan ulang, atau melengkapi informasi yang kurang jelas.
Anehnya, konten yang tidak berkualitas ini 16%-nya justru datang dari atasan ke tim mereka. Nggak heran 53% karyawan merasa kesal setelah menerimanya, 38% merasa bingung, sedangkan 22% malah merasa tersinggung.
Dampaknya juga buruk bagi pengirim. Mereka dianggap kurang cerdas oleh rekan kerja (37%), dan kurang dapat dipercaya (42%). Kemudian hampir sepertiga penerima mengaku malas bekerja lagi dengan si pengirim.
Artikel Terkait
Ketika Wawancara Kerja Kamu Diajak Untuk Ngopi Terlebih Dahulu, Kamu Perlu Paham Hal Penting Berikut Ini!
Kapan Waktu yang Pas untuk Minta Kenaikan Gaji, biar Nggak Dikira Kepedean?
Perilaku Kecil Seperti Menyela Pembicaraan Orang Lain Bisa Berdampak Buruk pada Hubungan Kerja Lho!
Mulai Tahun 2026, Main Game Online Tak Bakal Ngelag Lagi Karena 5G-Advanced. Apa Saja Perbedaaanya dengan 5G?
Ini Keju Terbaik di Dunia 2025 Menurut World Cheese Awards
Era Surat Berakhir di Denmark: Layanan Pos Tradisional Dihentikan setelah 400 Tahun
Gaji Tahunan Pangeran William Terungkap: Menghasilkan Sekitar $30 Juta dari Aset Milik Kerajaan