PejuangKantoran.com - Di banyak tempat kerja, ada pola yang sering terjadi tanpa benar-benar disadari. Mereka yang dikenal rajin, cepat, dan bisa diandalkan justru sering kali mendapat lebih banyak tugas dibanding yang lain. Sementara itu, sebagian rekan kerja lain tampak memiliki beban yang lebih ringan, bukan karena tidak mampu, tetapi karena tidak “terpilih” menjadi andalan.
Sekilas, hal ini terasa masuk akal. Atasan tentu ingin pekerjaan selesai dengan cepat dan minim risiko. Memberikan tugas kepada karyawan yang sudah terbukti kompeten menjadi pilihan paling praktis. Namun, di balik efisiensi tersebut, ada konsekuensi yang jarang disadari: ketimpangan beban kerja.
Tanpa disadari, karyawan yang rajin terus menjadi “tumpuan utama”, sementara yang lain tidak terdorong untuk berkembang. Dalam jangka pendek, sistem ini mungkin terlihat efektif. Tapi dalam jangka panjang, dampaknya bisa jauh lebih kompleks.
Dalam dunia psikologi kerja, fenomena ini bisa dijelaskan melalui Job Demands–Resources Model yang dikembangkan oleh Arnold Bakker dan Evangelia Demerouti. Model ini menjelaskan bahwa setiap pekerjaan memiliki dua sisi: tuntutan (demands) dan sumber daya (resources). Ketika tuntutan kerja terlalu tinggi tanpa diimbangi sumber daya yang cukup, seperti waktu, dukungan, atau distribusi tugas yang adil, maka risiko kelelahan akan meningkat.
Hal ini diperkuat oleh penelitian Christina Maslach dan Michael Leiter dalam konsep burnout di tempat kerja. Mereka menemukan bahwa salah satu pemicu utama kelelahan kerja bukan hanya banyaknya pekerjaan, tetapi juga ketidakadilan dalam distribusi beban kerja. Ketika seseorang merasa terus diberi lebih banyak tanggung jawab dibanding yang lain, motivasi dan kepuasan kerja bisa menurun secara signifikan.
Baca Juga: Ternyata Kurang Tidur Bisa Bikin Kamu Jadi Ngambekan , Ini 5 Alasannya
Dalam praktiknya, kondisi ini sering tidak terasa di awal. Karyawan yang rajin mungkin justru merasa bangga karena dipercaya. Namun seiring waktu, beban yang terus bertambah tanpa jeda bisa berubah menjadi tekanan. Rasa lelah mulai muncul, disusul kejenuhan, hingga akhirnya kehilangan semangat kerja.
Yang lebih mengkhawatirkan, dampaknya tidak hanya dirasakan individu. Tim secara keseluruhan juga bisa terdampak. Ketika hanya segelintir orang yang terus bekerja lebih keras, sementara yang lain tidak berkembang, kolaborasi menjadi tidak seimbang. Dalam jangka panjang, hal ini bisa mengganggu produktivitas tim secara keseluruhan.
Lingkungan kerja yang sehat seharusnya tidak hanya bergantung pada “siapa yang paling bisa diandalkan”, tetapi juga pada bagaimana tanggung jawab didistribusikan secara adil. Memberi kesempatan kepada seluruh anggota tim untuk berkembang bukan hanya mengurangi beban individu, tetapi juga memperkuat kapasitas tim secara keseluruhan.
Pada akhirnya, menjadi karyawan yang rajin memang penting. Namun, sistem kerja yang baik seharusnya mampu menjaga keseimbangan—agar kepercayaan tidak berubah menjadi beban yang berlebihan, dan produktivitas bisa bertahan dalam jangka panjang.
Artikel Terkait
Jarang Disosialisasikan, Padahal Employee Assistance Program Disediakan Gratis buat Karyawan
5 Hal yang Perlu Kamu Ketahui tentang Employee Assistance Program, Cek Apakah Ada di Kantormu!
Siapa Saja yang Suka Mencuri Ide Orang Lain di Tempat Kerja, dan Apa Sih Penyebabnya?
Jangan Dibiarkan Berlarut-larut, Ini 7 Cara Menghadapi Pencurian Ide di Tempat Kerja
Makin Banyak Perusahaan yang Mengizinkan Karyawan Pakai Jeans ke Kantor, Gimana Biar Tetap Rapi?
3 Kebiasaan 'Buruk' Ini Ternyata Menandakan Kecerdasan Emosional yang Tinggi, Overthinking Misalnya
Kreativitas Ternyata Bukan Cuma Milik Anak Muda, Begini Memaksimalkan Potensi sesuai Tahap Usia
Gimana Cara Berkembang di Tempat Kerja kalau Atasan Tidak Pernah Memberikan Feedback?
Indonesia Masuk 10 Besar Destinasi Terbaik untuk Pekerja Remote, Ini Alasannya
Jangan Sepelekan Micro Behaviour, Pahami Perilaku Ini Karena Bisa Berdampak Besar dalam Organisasi