Pejuangkantoran.com – Pernah ketemu atau punya rekan kerja suka “pamer” pencapaian dan kemampuan? Misal, menggembar-gemborkan berhasil closing dengan klien yang sebenarnya biasa-biasa saja namun seolah-olah itu klien yang sangat besar dan baru. Perilaku ini biasanya diikuti keinginan validasi, selalu mkinta dipuji semua hal tentang dia, termasuk pencapaian itu.
Ini adalah salah satu ciri-ciori dari orang yang mengalami Narcissistic Personality Disorder (NPD).
Narcissistic Personality Disorder (NPD) adalah gangguan kepribadian yang ditandai oleh pola rasa diri yang berlebihan (grandiosity), kebutuhan kuat akan kekaguman, dan kurangnya empati terhadap orang lain.
Dan hal ini berlangsung lama serta memengaruhi kehidupan sosial maupun profesional.
Yang perlu dicatat, NPD tidak sama dengan percaya diri. Sebab, orang percaya diri masih punya empati dan realistis.
Ciri-ciri utama seorang yang mengalami NPD adalah:
- Grandiosity (rasa diri berlebihan): Merasa diri sangat istimewa / lebih unggul serta melebih-lebihkan pencapaian dan kemampuan.
- Kebutuhan akan validasi: Sangat butuh pujian, pengakuan, atau perhatian, namun mudah tersinggung jika tidak dihargai.
- Kurang empati: Sulit memahami atau peduli perasaan orang lain karena cenderung mengabaikan kebutuhan orang lain.
- Pola relasi yang tidak sehat: Memanfaatkan orang lain untuk keuntungan pribadi, sehingga hubungan sering tidak seimbang (dominan vs dimanfaatkan).
- Sensitif terhadap kritik: Ketika mendapat kritik kecil bisa dianggap serangan besar. Reaksinya bisa berupa marah, defensif, atau menarik diri.
Baca Juga: Kesalnya Kalau Si NPD Mulai Merajalela, Ini Cara Menghadapi Si Narsis di Kantor
Di lingkungan kerja, NPD biasanya tidak muncul sebagai tanda-tanda klinis yang jelas, naun lebih banyak sebagai pola perilaku yang konsisten, terutama dalam cara berinteraksi, mengambil keputusan, dan memperlakukan orang lain.
Berikut gambaran yang lebih “operasional” di kantor berupa pola perilaku yang terlihat sehari-hari:
- “Credit taker, blame shifter”
Ini sering terlihat pada rapat evaluasi atau laporan kinerja. Misal: mengklaim keberhasilan tim sebagai hasil kerja pribadi, namun saat gagal, ia akan menyalahkan bawahan, rekan, atau sistem.
- Sangat “image-driven”
Biasanya aktif bicara di meeting besar, tapi tidak follow-up pekerjaan. Ia akan lebih fokus pada bagaimana “terlihat” daripada hasil nyata. Umumnya, ia akan berperilaku seperti ini di depan pimpinan.
- Butuh validasi terus-menerus
Sering menonjolkan pencapaian sendiri di depan forum dengan tujuan agar dipuji, diakui, atau dianggap paling penting
Baca Juga: Perilaku Kecil Seperti Menyela Pembicaraan Orang Lain Bisa Berdampak Buruk pada Hubungan Kerja Lho!
- Minim empati dalam manajemen
Apabila orang seperti ini memegang posisi manajerial, maka suka memberikan target tanpa mempertimbangkan kapasitas realistis. Ini karena ia tidak peduli beban kerja tim dan kurang mempertimbangkan kondisi personal orang lain.
Artikel Terkait
Budaya Kerja Toksik Bisa Jadi Biang Kerok Impostor Syndrome, Bikin Karyawan Kehilangan Percaya Diri
6 Cara Mengarahkan Si Manipulatif Menjadi Negosiatif Supaya Kerja Tim Optimal
Bukan Sekadar Drama Kantor: Hubungan Toksik dengan Atasan Bisa Berdampak pada Kesehatan dan Umur
Resign dari Lingkungan Kerja yang Toxic Bisa Menyelamatkan Mental, Ini Penjelasan Ilmiahnya
7 Kesalahpahaman dari Bounded Choice yang Mesti Kamu Tahu Agar Terhindar Konflik dengan Atasan
Bounded Choice Itu Bukan Manipulatif dan Bisa Membuat Kerja Tim Menjadi Lebih Efektif