Senang Sudah Berhenti Bekerja, tapi Sedih Melihat Teman Naik Jabatan di Perusahaan Impian?

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Senin, 27 Februari 2023 | 11:24 WIB
Ilustrasi: Senang bisa berhenti bekerja untuk menemani anak-anak, tapi kok merasa ada yang kurang ya? (Freepik)
Ilustrasi: Senang bisa berhenti bekerja untuk menemani anak-anak, tapi kok merasa ada yang kurang ya? (Freepik)

PejuangKantoran.com - Stres dan beban kerja di kantor seringkali membuat kaum perempuan terpikir untuk berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga.

Ingatan akan anak yang masih balita, dan perjalanan pulang-pergi ke kantor yang melelahkan, makin memperkuat keputusan untuk mengundurkan diri dari kantor.

Bagi sebagian perempuan, keputusan semacam ini menjadi keputusan mereka yang terbaik. Mereka bisa menemani anak bermain atau mengantarjemput ke sekolah, menjalankan hobi yang terbengkalai, atau nongkrong bersama teman-teman sambil “menghabiskan duit suami”.

Baca Juga: Ingin Mengejar Passion, tapi Gajinya Lebih Rendah daripada Gaji Sebelumnya

Namun bagi sebagian perempuan yang lain, berhenti bekerja menimbulkan tantangan baru yang tak terpikirkan sebelumnya.

“Banyak dari identitas kita yang dikaitkan dengan pekerjaan kita dan, karena itu, saya merasa tersesat selama beberapa lama setelah berhenti bekerja. Saya merasa bahwa saya tidak punya tujuan,” ujar Debbie Mohr, mantan staf HR.

Ada rasa sedih dan tertinggal ketika kita melihat teman-teman kita di akun LinkedIn-nya mengumumkan bahwa mereka meraih jabatan lebih tinggi di perusahaan impiannya, sedangkan kamu tidak punya jabatan lagi sejak berhenti bekerja.

Bahkan mendengar teman-teman yang bercerita bahwa mereka baru saja menjalani training atau seminar saja sudah membuat kamu terpikir, andai saja tidak berhenti bekerja pasti kamu masih bisa mengikuti training-training gratis dari kantor meningkatkan skill set kamu.

Bukan berarti kamu menyesal karena menghabiskan waktu Bersama anak di rumah, tetapi lebih karena kamu terbiasa bekerja di kantor. Kamu merasa sulit untuk menyesuaikan diri karena sekarang kamu tidak punya karier yang menentukan siapa diri kamu.

“Dulu saya terfokus banget sama karier. Saya bukan tipe perempuan yang membayangkan diri saya berada di dekat anak dan sangat menikmati kegiatan anak-anak,” ujar Nadia Bechai, yang memutuskan berhenti bekerja dari firma hukum ketika anak keduanya lahir.

Baca Juga: Apa yang Dimaksud Skill Set, yang Sering Dituntut dalam Kualifikasi Suatu Lowongan Pekerjaan?

Berhenti bekerja bukan keputusan yang mudah Nadia dibesarkan untuk mengejar karier, dan sebagian besar temannya adalah pengacara atau profesional lainnya.

Dia menilai perempuan yang berhenti bekerja sebagai tanda kelemahan. Kalau perempuan lain berhasil menjalankan karier dan anak-anak, mengapa dia tidak bisa?

“Semakin banyak peran bermakna yang kamu miliki dalam hidupmu, semakin besar kemungkinan bahwa jika ada yang salah dalam satu peran, sesuatu yang lain akan berjalan dengan baik di peran lain,” kata Linda Duxbury, peneliti work-life balance di Carleton University, Ottawa.

Kalau kamu berhenti dari pekerjaan karena berpikir hal itu akan membuat orang lain bahagia, kamu mungkin merasa kesal ketika situasi malah menjadi sulit (karena memang demikian).

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Travel Awaits, Todays Parent

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X