Efek Buruk Jika Benci dengan Pekerjaan yang Kamu Lakukan Selama Ini

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Minggu, 11 Juni 2023 | 13:54 WIB
Ilustrasi: Ketika kamu melihat kantor sebagai zona bahaya, hal itu akan membuat otot-otot menegang dan memicu sakit kepala.. (Pexels.com/Andrea Piacquadio)
Ilustrasi: Ketika kamu melihat kantor sebagai zona bahaya, hal itu akan membuat otot-otot menegang dan memicu sakit kepala.. (Pexels.com/Andrea Piacquadio)

Nafsu makan terkait erat dengan otak kamu. Saat stres akut, respons fight-or-flight membuat adrenalin lepas, memberitahu tubuh untuk menekan pencernaan agar fokus menyelamatkan dari bahaya yang dirasakan.

Namun, di bawah tekanan jangka panjang, kelenjar adrenal tubuh melepaskan dan membangun kortisol, hormon yang dapat meningkatkan rasa lapar.

Jadi, ketika pekerjaan menyebabkan tekanan emosional jangka panjang, kamu mungkin beralih ke makanan untuk membuat dirimu nyaman.

Harvard juga melaporkan bahwa makan makanan manis dapat menghilangkan respons dan emosi terkait stres. Itulah sebabnya makanan itu sering dianggap sebagai comfort food, tetapi itu kebiasaan tidak sehat yang harus dihindari.

Apa yang dapat dilakukan untuk mengatasinya?

Istirahat

Setelah tubuh berjaga untuk membuat kamu bertahan dari beban kerja yang tinggi dan bos yang toxic, kamu perlu memberinya waktu istirahat.

"Ketika kita tidak memberi kesempatan pada sistem saraf untuk rileks dan mengatur ulang dirinya sendiri, itu mulai menyebabkan kerusakan jangka panjang," jelas Momique.

Bertemu teman di luar tempat kerja, meditasi, dan olahraga dapat membantu mengimbangi gejala stres.

Membingkai ulang pemikiran negatif

Salah satu prinsip terapi perilaku kognitif adalah bagaimana kamu berpikir dapat mengubah perasaanmu.

Baca Juga: Punya Performa Bagus di Kantor, Tapi Kenapa Kamu Tidak Juga Naik Jabatan?

“Tidak mudah berganti pekerjaan, tetapi kita dapat fokus pada situasi yang dapat dikendalikan,” kata Monique.

Tinggalkan pekerjaan itu

Jeffrey mengatakan bahwa jam kerja yang panjang, tidak adanya otonomi, penjadwalan yang tidak pasti, dan ketidakamanan ekonomi di tempat kerja adalah faktor-faktor penyebab lingkungan kerja yang toxic

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Huffington Post

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X