Padahal, manajer yang kurang baik kinerjanya bisa memicu turnover karyawan alias pergantian karyawan yang tinggi. Hanya 27% karyawan yang menilai manajer mereka sangat efektif, sedangkan 37% mengatakan manajer mereka cukup efektif.
Temuan lain dari survei tersebut mengungkapkan, separuh pekerja yang menganggap manajer mereka tidak efektif mengatakan bahwa mereka berencana untuk resign dalam 12 bulan ke depan.
Sedangkan dari karyawan yang menganggap manajer mereka efektif, ada 21% yang berencana resign. Kemudian, 31% manajer dan 28% pekerja memutuskan pindah kerja karena hubungan negatif dengan atasannya.
Orang terpintar di kantor
Pada tahun 2015 lembaga survei Gallup juga memaparkan hasil survei, di mana 2,5 juta tim yang dipimpin manajer di 195 negara menemukan: hanya 1 dari 10 orang yang memiliki kualitas yang tepat untuk menjadi pemimpin yang sukses.
Baca Juga: Sedih, Hingga September 2023 Ada 42 Ribu Lebih Pekerja yang di-PHK
Kesalahan umum yang dilakukan manajer baru adalah berpikir bahwa mereka harus menjadi “orang terpintar di ruangan itu”, begitu kata René Carayol, pembicara kepemimpinan dan penulis buku SPIKE - What Are You Great At.
Carayol menekankan bahwa IQ kurang penting dibandingkan kecerdasan emosional. Selain itu, kurangnya empati akan menyebabkan karyawan memilih untuk keluar.
Ia menambahkan, para manajer sebenarnya tidak perlu memiliki jawaban atas setiap pertanyaan. Tugas mereka yang penting adalah menciptakan lingkungan di mana karyawan bisa berkembang dan maju.