Bukan karena AI, tapi WFH yang Lebih Menyebabkan Sulit Mendapat Pekerjaan Entry Level

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Kamis, 28 Mei 2026 | 22:36 WIB
Ilustrasi: Ternyata bukan AI yang menyebabkan lulusan baru susah mendapat pekerjaan entry level, melainkan sistem WFH. (Freepik)
Ilustrasi: Ternyata bukan AI yang menyebabkan lulusan baru susah mendapat pekerjaan entry level, melainkan sistem WFH. (Freepik)

PejuangKantoran.com - Belakangan ini kita sering mendengar obrolan bahwa anak-anak fresh graduate makin susah mendapat pekerjaan entry level gara-gara tenaga manusia digantikan AI.

Malah bos-bos perusahaan teknologi seperti CEO Anthropic dan Google DeepMind sempat bilang kalau lowongan magang dan posisi junior mulai berkurang karena kecerdasan buatan. Tapi, ternyata tebakan itu nggak sepenuhnya benar.

Ada riset terbaru dari London School of Economics dan Ellison Institute of Technology yang menganalisis ratusan juta data lowongan kerja dan resume dari tahun 2017-2025 di negara-negara besar kayak AS, Inggris, Kanada, dan Australia.

Baca Juga: Penjualan Turun Drastis, Jaringan Toko Ritel Galeries Lafayette Menutup Tokonya di Beijing

Kesimpulannya cukup mengejutkan, ternyata biang kerok susahnya lulusan baru mendapat pekerjaan itu sebenarnya bukan AI, melainkan tren Work from Home (WFH).

"Temuan kami menunjukkan dengan sangat kuat bahwa paparan WFH adalah faktor prediktor yang jauh lebih baik untuk menjelaskan penurunan perekrutan karyawan di awal karier mereka," demikian menurut peneliti Peter John Lambert dan Yannick Schindler.

Kenapa WFH menghilangkan rekrutmen fresh graduate?

Kalau dipikir-pikir, pekerjaan yang paling rentan digantikan AI (seperti software developer, akuntan, atau data scientist) itu memang jenis pekerjaan yang paling sering dilakukan secara remote.

Nah, riset-riset sebelumnya sering salah sangka dan mencampuradukkan kedua tren ini. Ketika para peneliti memisahkan faktor AI dan WFH, kelihatan jelas kalau efek AI langsung menyusut drastis, bahkan hampir tidak berpengaruh ke angka perekrutan.

Masalah utamanya ternyata ada di manajemen organisasi, bukan di teknologi.

Baca Juga: 3 Gaya Kepemimpinan Modern yang Bisa Disimpulkan dari Tokoh-tokoh The Devil Wears Prada 2

"WFH terbukti meningkatkan biaya untuk mengawasi dan memantau pekerja, serta bisa memperlambat proses belajar langsung di tempat kerja. Hambatan organisasi inilah yang bisa mengikis nilai penting dari investasi pada talenta muda," jelas para peneliti tersebut.

Jujur saja, melatih anak yang baru lulus lewat Zoom itu memang PR banget. Mereka tidak bisa langsung menengok ke meja sebelah untuk bertanya hal-hal kecil, dan bos juga susah memantau progres mereka secara natural.

Dampaknya langsung terlihat di lapangan

Tren ini bukan cuma teori di atas kertas. Pada 2025 lalu, jenis pekerjaan yang kental dengan budaya WFH mengalami penurunan perekrutan anak baru sebesar 4 sampai 5 persen dibanding pekerjaan yang harus datang ke kantor.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Business Insider

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X