kubikel

Tidak Ada yang Positif dengan Toxic Positivity, Ini Bahayanya Kalau Perusahaan Mendukungnya

Sabtu, 4 November 2023 | 11:08 WIB
Ilustrasi: Memaksa karyawan terus-menerus berpikir positif dalam berbagai keburukan yang terjadi adalah ciri khas lingkungan toxic positivity. (Freepik)

PejuangKantoran.com - Berpikir positif itu tentu baik. Tetapi menjadi tidak baik kalau kamu terus-menerus dipaksa untuk berpikir positif atas keburukan yang terjadi. Orang menyebutnya toxic positivity.

Sialnya, banyak perusahaan yang mendukung situasi toxic positivity. Perusahaan seperti ini meminta karyawan selalu berpikir positif dan mengingkari perasaan negatif di tempat kerja.

Salah satu bentuk toxic positivity di tempat kerja adalah, mengharuskan karyawan untuk tetap antusias dan optimis meskipun dalam situasi yang buruk.

Baca Juga: Gaji Karyawan Microsoft di Kota Besar di Amerika Nggak Kaleng-Kaleng, Ini Bocorannya!

Dalam lingkungan toxic positivity, apa pun yang terjadi kamu tidak boleh melawan. Seburuk apa pun masalahnya, kamu harus berpikir positif dan pura-pura bahagia  dalam menghadapinya.

Tentu saja ini dapat berdampak buruk bagimu. Tekanan dan stres yang tiada henti, sambil mengabaikan perasaan kita sendiri, bisa menimbulkan kelelahan dan mengecewakan tim dan perusahaan —meski mungkin kamu tidak melakukannya.

Bagi perusahaan, hal ini juga dapat menjadi bumerang. Ketika karyawan dipaksa untuk berpikir positif, padahal mereka juga punya masalah di rumah, karyawan akan sulit untuk bekerja dengan perasaan gembira.

Hasilnya? Pekerjaan jadi tidak maksimal. Jika pekerjaan berhubungan dengan klien atau pelanggan, karyawan juga akan semakin sulit memberikan pelayanan yang baik.

Baca Juga: Chicco Kurniawan Bangga Sekaligus Cemas, Film Seperti 13 Bom Di Jakarta Bisa Dibuat di Indonesia

Dampaknya untuk para pekerja

Akan sangat melelahkan jika atasan terus-menerus mengatakan, "Kerja kerasmu akan terbayar. Kamu mampu melakukan lebih dari ini. Kesuksesan akan datang pada mereka yang bekerja keras."

Padahal, memotivasi dengan antusiasme palsu seperti ini justru membuat pekerja menjadi tidak bersemangat dan frustrasi karena harus pura-pura bahagia. Hal ini membuat masalah yang sebenarnya justru terabaikan.

Sikap toxic positivity dapat membuat karyawan merasa bahwa jika hasil pekerjaan tidak memuaskan, itu adalah kesalahannya. Padahal, belum tentu seperti itu. Apalagi jika itu bukan pekerjaan satu orang.

Jika kamu mendapat tugas yang sulit, bisa dimengerti kalau kamu merasakan tambahan stres dan tekanan. Ditambah lagi jika atasan mendorongmu untuk pura-pura bahagia, itu akan membuatmu merasa terasing dari perusahaan.

 

Halaman:

Tags

Terkini