Meskipun keterampilan teknis diperlukan, keterampilan lunak seperti berpikir kritis, kemampuan manajemen waktu, dan bekerja dalam tim sama pentingnya untuk peran apapun yang ditawarkan.
Ketika kamu menekankan pada soft skill, pewawancara akan mendapat pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana kamu bisa cocok dengan tim mereka dan berkontribusi pada kesuksesan perusahaan.
Baca Juga: 7 Hal yang Harus Kamu Hindari pada Minggu Pertama Bekerja di Kantor yang Baru
• Melebih-lebihkan kemampuan kamu alias membual. Melebih-lebihkan keterampilan atau pengalaman bisa menciptakan ekspektasi yang tidak realistis, sehingga menyebabkan kekecewaan pada rekruter maupun kamu sendiri.
Kalaupun kamu diterima, mungkin kamu tak akan lolos masa probation karena kamu tidak mampu bekerja sesuai janji kamu.
• Hanya membahas dasar-dasarnya saja. Kamu menjawab, “Pekerjaan Bapak membutuhkan seseorang dengan pengalaman di bidang penjualan, dan saya memilikinya.”
Padahal setiap pelamar yang diwawancarai kemungkinan besar juga punya pengalaman penjualan. Idealnya, tanggapan kamu mampu memamerkan sesuatu yang tidak dimiliki oleh sebagian besar kandidat lainnya.
• Berasumsi bahwa rekruter hanya berbasa-basi. Jangan menghabiskan seluruh waktu untuk membicarakan keterampilan dan pengalaman kamu, tetapi lupa menyebutkan bagaimana semua itu berhubungan kembali dengan perusahaan dan posisi yang kamu lamar.
Baca Juga: 4 Tips dan Trik Lolos Ujian Seleksi dan Rekrutmen Bersama BUMN
• Ngelantur dengan menceritakan seluruh kisah hidupmu. Sulit untuk mengetahui kapan kamu sudah cukup menjawab pertanyaan dari pewawancara.
Kamu bisa tahu bahwa pewawancara ingin mempelajari lebih lanjut ketika mereka mengajukan pertanyaan lanjutan.
Tahan keinginan untuk membahas setiap alasan mengapa kamu harus dipekerjakan di perusahaan tersebut, dan pastikan jawaban kamu tak lebih dari dua menit.
Manakah di antara kesalahan saat menjawab pertanyaan “Mengapa kami harus menerima kamu?” yang sering kamu lakukan?