Selain itu, ia mengatakan kurangnya pengalaman tawar-menawar dan keinginan untuk sekadar mendapatkan pekerjaan merupakan hambatan besar.
Banyak juga yang tertahan karena takut merusak hubungan dengan perusahaan mereka, tambahnya.
Cara negosiasi gaji bagi fresh graduate
Jika kamu merasa terintimidasi oleh diskusi mengenai gaji, para ahli menyarankan beberapa cara negosiasi gaji bagi fresh graduate berikut ini:
Baca Juga: Bebas Utang, Faktor Nomor 1 yang Bikin Orang Merasa Aman secara Finansial. Begini Cara Mencapainya!
• Lakukan penelitian menyeluruh untuk memahami harga pasar untuk peran, industri, dan lokasi perusahaan kamu.
Hal ini akan membantu mengidentifikasi dan mengartikulasikan keterampilan kamu sesuai kebutuhan pasar dan menampilkan diri kamu sebagai aset berharga bagi pemberi kerja.
• Posisikan diri kamu sebagai pemecah masalah (problem solver). Kamu harus berusaha menentukan kesulitan yang dihadapi manajer perekrutan kamu, dan bagaimana kamu bisa membantu mereka menyelesaikan masalah tersebut.
• Jaga agar negosiasi kamu tetap fleksibel. Pahami perspektif pemberi kerja untuk mengetahui batasan dan prioritas mereka. Juga, ingatlah untuk memulai negosiasi setelah menerima tawaran pekerjaan dan sebelum menerimanya.
Jadi, jika komponen gaji tidak dapat ditingkatkan, kamu bisa meminta tunjangan atau manfaat yang penting lainnya. Misalnya, penggantian biaya transportasi, kupon makan siang, atau diskon produk yang diproduksi oleh perusahaan tersebut.
Baca Juga: Daripada Merekrut Karyawan Baru dari Luar, Perusahaan Lebih Suka Quiet Hiring dari Dalam
Meminta lebih banyak kesempatan untuk pelatihan juga merupakan langkah cerdas lainnya untuk mengupayakan pengembangan profesional yang berkelanjutan.
Yang terpenting, seiring dengan melakukan negosiasi gaji dengan profesionalisme, ketegasan, dan percaya diri, setiap individu harus tetap menghargai keputusan perusahaan, dan terbuka untuk berdiskusi.
Terlepas dari bagaimana interaksi kamu nantinya, pertahankan sikap hormat dan sopan, dan bersiaplah untuk menerima jawaban “tidak”.