Pemikiran analitis juga menawarkan nilai profesional. Perusahaan mencari kandidat dengan kemampuan berpikir analitis yang baik untuk membantu memecahkan masalah dan membuat keputusan yang tepat di tempat kerja.
Sebagian besar jenis pekerjaan memerlukan keterampilan analitis. Kita menggunakannya untuk memecahkan masalah yang mungkin tidak mempunyai solusi jelas, atau yang memiliki beberapa variabel.
Baca Juga: Kesenjangan Upah Berbasis Gender Di Singapura Mengecil, Perempuan Makin Berpeluang Jadi Pemimpin
Katakanlah kamu manajer sebuah restoran dan telah melebihi anggaran makanan selama dua minggu terakhir. Kamu lalu meninjau menu dan apa yang dipesan pelanggan, beserta biaya makanan dari pemasok kamu.
Kamu melihat bahwa harga makanan laut telah meningkat selama dua minggu terakhir. Saat kamu berbicara dengan pemasok, mereka menjelaskan bahwa ada gangguan dalam rantai pasokan karena cuaca.
Mereka lalu meningkatkan biaya sebagai kompensasi. Kamu pun memutuskan untuk mengurangi pesanan makanan laut untuk menurunkan biaya.
Kemudian, kamubekerja sama dengan juru masak untuk mengembangkan hidangan spesial baru yang memanfaatkan pilihan protein lainnya.
Dalam contoh ini, kamu menggunakan analytical thinking untuk meninjau data dari berbagai sumber, mengintegrasikan informasi baru, dan membuat keputusan berdasarkan pengamatan kamu.
Baca Juga: Maudy Ayunda Tergerak Jadi Produser Film KHD karena Kecintaannya untuk Selalu Belajar
Jadi, kemampuan berpikir analitis berguna untuk menemukan solusi terhadap masalah yang kompleks dan menganalisis suatu situasi.
Karyawan bisa menggunakan keterampilan ini untuk melakukan brainstorming ide-ide baru, serta mengumpulkan dan menafsirkan data untuk pemahaman lebih lanjut.