PejuangKantoran.com - Tanda-tanda seorang karyawan berniat keluar dari perusahaan adalah meningkatnya ketidakpuasan yang vokal, kritik secara terbuka terhadap perusahaan atau pimpinan, dan kurangnya keterlibatan dalam aktivitas yang berhubungan dengan pekerjaan.
Selain itu, jika karyawan mulai mendiskusikan keluhan mereka dengan rekan kerja, atau mengungkapkan keinginan untuk membuat pernyataan setelah keluar, ini juga bisa menjadi indikator skenario loud quitting.
Loud quitting biasanya dilakukan dengan memposting pengunduran dirinya melalui media sosial, tetapi masih ada 8 skenario lain yang bisa menjadi contoh loud quitting yang dilakukan banyak orang:
Baca Juga: Lowongan Kerja Complex Digital Marketing Coordinator di Hotel Ritz Carlton Jakarta Mega Kuningan
Posting di media sosial. Karyawan mengumumkan pengunduran dirinya di media sosial, sambil merinci alasannya resign dan mengungkapkan rasa frustrasinya terhadap budaya, manajemen, atau kebijakan perusahaan. Deklarasi publik ini bertujuan untuk mencari perhatian khalayak luas.
Exit interview yang pedas. Selama exit interview, atau wawancara terakhir sebelum resign, karyawan umumnya memberikan umpan balik yang jujur dan kritis tentang organisasi.
Mereka melontarkan keluhan mereka secara terbuka, tentang kepemimpinan yang buruk, komunikasi yang tidak jalan, atau lingkungan kerja yang toxic.
Memberi ulasan dan penilaian online. Karyawan menggunakan situs pencari kerja atau forum industri untuk memposting ulasan negatif tentang perusahaannya. Ulasan ini menyoroti ketidakpuasan tertentu, yang berkontribusi terhadap persepsi negatif terhadap perusahaan.
Surat pengunduran diri terbuka. Alih-alih surat pengunduran diri standar yang dikirim secara internal, seorang loud quitter akan membuat draf surat pengunduran diri secara terbuka, dan membagikannya pada platform profesional atau saluran komunikasi perusahaan. Surat ini biasanya merinci alasan keluar dan mengkritik aspek organisasi.
Melalui rapat tim. Dalam beberapa kasus, karyawan memilih untuk membuat pengumuman langsung tentang kepergian mereka selama rapat tim, menekankan alasan mereka keluar dan mengungkapkan rasa frustrasi mereka di depan rekan kerja dan atasan.
Membuat podcast atau video. Karyawan yang akan keluar membuat podcast atau video untuk mengutarakan alasan kepergian mereka, dan sering kali disertai kejadian spesifik yang mendasari keputusan mereka.
Baca Juga: Film Saat Menghadap Tuhan Jadi Cerminan Keresahan Rudi Soedjarwo dalam Pola Asuh Anak
Surat terbuka untuk rekan kerja. Seorang karyawan menulis surat terbuka kepada rekan kerja di dalam organisasi, mendiskusikan kepergian mereka dan berbagi wawasan tentang pengalaman mereka. Surat ini dapat disebarkan melalui email atau saluran komunikasi internal.
Terang-terangan mencari pekerjaan baru. Karyawan yang secara aktif mencari pekerjaan saat masih bekerja membuat pencarian kerjanya menjadi publik.
Dari sekadar berbagi kabar di jaringan profesional, mengumumkan wawancara, atau mendiskusikan ketidakpuasan terhadap posisi mereka saat ini secara terbuka.