Cara ini akan mencegah karyawan merasa terbebani lebih dari yang seharusnya, dan mengembalikan tanggung jawab ke tempat sebenarnya, yaitu manajer.
Tyler Quiel, CEO Giggster, marketplace yang menghubungkan pekerja kreatif dengan lokasi untuk pemotretan, syuting, atau event, menyarankan, saat tiba waktunya membuat rencana untuk target perusahaan, libatkan anggota tim.
Baca Juga: Tim Elang Relawan BRI Makin Sigap dalam Upaya Mitigasi terhadap Dampak Bencana
4. Mengabaikan kejujuran
Meski terkadang kebenaran itu menyakitkan, tetapi manajer harus transparan agar komunikasi dengan karyawan menjadi efektif.
Andrew Schrage, pakar keuangan dari Money Crashers Personal Finance berpendapat, boleh saja atasan menutupi komentar keras dengan komentar positif sebelum dan sesudahnya, tetapi bersikap sejujur mungkin dengan tim adalah keharusan.
5. Tidak menunjukkan sisi manusiawi
Ingat, menjadi manajer bukan berarti selalu memiliki jawabannya. Pemimpin tetap harus menunjukkan sisi manusiawi kepada karyawan dan mengakui kesalahan yang terjadi, atau ketika tidak mengetahui sesuatu.
“Berpura-pura tidak pernah salah dan semua orang harus melakukan apa yang kamu katakan, bukan sesuatu yang dihargai oleh karyawan,” kata Maria Thimothy, Senior Digital Marketing Consultant dari agency OneIMS.
6. Hanya mendengar, tidak mendengarkan
Baca Juga: Sejumlah Pegawai Komdigi 'Melindungi' Situs Judi Online Dan Mengeruk Keuntungan Rp8,5 Miliar
Banyak atasan yang cenderung hanya mendengar, tanpa benar-benar mendengarkan dan memahami apa dikatakan timnya.
Bahkan, ada atasan yang ingin berkomunikasi hanya untuk menyampaikan pesan, bukan untuk memahami.
Sikap ini mengakibatkan miskomunikasi dan kebencian. Mengapa? Karena tidak adanya empati sama saja dengan komunikasi yang buruk.
7. Tidak selalu hadir