Pencari kerja akan lebih menyukai pencapaian-pencapaian yang bisa diukur. Misal, kamu bisa memecahkan rekor prosentase kenaikan jumlah pelanggan dalam 5 tahun terakhir di Perusahaan sebelumnya.
Namun juga tidak harus semua pencapaian bersifat kuantitatif. Misal, kamu bisa mempertahankan Perusahaan tetap hidup saat pandemi tanpa ada pengurangan karyawan, adalah sebuah pencapaian juga. Pencapaian semacam ini juga bisa menggambarkan seberapa jauh kemampuan kamu.
Hal-hal semacam ini lebih menggoda pencari kerja untuk tahu lebih lanjut tentang kamu.
- Harus terbaca
Jangan memaksakan resume harus satu halaman namun dengan ukuran font yang kecil. Ketika resume atau CV kamu sulit dibaca, maka informasi penting tentang kamu juga sudah pasti tidak tersampaikan secara efektif. Bahkan tidak tertutup kemungkinan, resume kamu tidak dibaca.
Apabila memang ada banyak hal relevan yang harus kamu ceritakan, maka resume dengan dua sampai tiga halaman adalah hal yang wajar.
Gunakan ukuran font yang memang mudah terbaca. Untuk resume daam bentuk cetak, ukuran 12-12,5 secara umum mudah dibaca. Sementara untuk digital, ukuran font di badan tulisan sekitar 16-18 poin itu masih bisa terbaca.
Gunakan jenis font yang memang umum, misal Times New Romans atau Calibri. Buat lay out yang sederhana namun tetap menarik. Saat ini sudah banyak aplikasi yag menyediakan template desain resume atau CV.
Baca Juga: Bagaimana Cara Menampilkan Transferable Skills Di dalam CV dan Saat Wawancara Kerja?
- Tidak ada salahnya minta bantuan
Membuat resume atau CV, apalagi jika baru pertama kali, adalah hal yang cukup sulit. Bahkan yang sudah pernah pun tetap bisa mengalami kesulitan, terutama dalam menyampaikan pencapaian-pencapaian kamu.
Usahakan kalimat-kalimatnya tidak terlalu melebih-lebihkan atau mengurangi kemampuan kamu. Karena itu, jangan sungkan untuk minta pendapat orang lain untuk menilai resume yang kamu buat.
Mereka bisa saja mentor penulisan resume atau teman yang memang punya pengalaman soal resume (biasanya teman yang bekerja di departemen sumberdaya manusia).
Profile di LinkedIn kamu itu penting, karena itu harus selalu di-update. Cantumkan di resume kamu akun LinkedIn kamu. LinkedIn akan menunjukkan tak hanya pencapaian namun juga interest kamu di bidang profesional.
Mereka yang memang tertarik secara serius di bidangnya, biasanya akan cukup sering berbagi tulisan, baik yang opini yang kamu tulis sendiri maupun forward opini orang lain di blog LinkedIn kamu.
***