Menurut Baguios, sebagai manfaat yang diamanatkan pemerintah, gaji ke-13 sering diperlakukan sebagai tindakan kepatuhan daripada rasa terima kasih.
"Ketika 'mengapa' di baliknya tidak jelas atau dikomunikasikan dengan buruk, hal itu berisiko menjadi kewajiban bagi pemberi kerja dan hak bagi karyawan—yang hasilnya semakin berkurang.
"Seiring berjalannya waktu, karyawan mengharapkan lebih banyak untuk usaha yang sama, sehingga mengurangi dampak dari penghargaan tersebut," jelasnya.
Baca Juga: Dituding CEO Gadungan dan Tak Bayar Gaji Karyawan, Hamish Daud Tempuh Jalur Hukum
Baguios mengatakan, perusahaan harus memikirkan kembali cara mereka mengomunikasikan penghargaan untuk karyawan.
"Sebelum mendistribusikan manfaat, ungkapkan dengan jelas tujuannya—rasa terima kasih atas dedikasi dan kontribusi karyawan. Fokusnya harus pada pesan, bukan hanya uang," sarannya.
"Motivasi yang berkelanjutan berasal dari sistem penghargaan yang dipikirkan dengan matang yang menyelaraskan pengakuan dengan perilaku yang diinginkan."
Bila penghargaan menjadi bermakna, dan punya tujuan, penghargaan tersebut tidak hanya menumbuhkan kepuasan karyawan yang lebih besar tetapi juga tempat kerja yang lebih terlibat dan produktif.