Ini karena mereka memperluas cara karyawan melihat kesuksesan orang lain sehingga menimbulkan kesan “rumput tetangga terlihat lebih hijau”.
Jadi, sudah menjadi tanggung jawab perusahaan untuk menghindari tren ini dan menyarankan perusahaan untuk meminimalkan risikonya.
“Ini adalah pesan bagi para pemberi kerja untuk berevolusi atau kehilangan talenta terbaik,” tegas Bester.
Baca Juga: British School Jakarta Buka Lowongan Kerja Head of Library, Paket Remunerasinya Menggoda!
Perusahaan dengan cara kerja yang sudah ketinggalan zaman, tak memiliki fleksibilitas, atau mengabaikan suara karyawan menjadi yang paling berisiko mengalami revenge quitting.
Apalagi, saat ini karyawan memiliki pilihan, alat, dan kepercayaan diri untuk menuntut yang lebih baik. Saat tuntutan tersebut tidak terpenuhi, mereka tidak lagi takut untuk berhenti bekerja.
Bester bilang, “Ini bukan hanya sebuah tren, tetapi menjadi peringatan bagi perusahaan untuk beradaptasi dengan realitas tempat kerja yang berubah dengan cepat.”
Apa yang harus dilakukan perusahaan?
Untuk mengurangi risiko revenge quitting, Bester percaya bahwa para pemimpin harus mengembangkan budaya kerja yang menghargai kontribusi karyawan dan memenuhi kebutuhan mereka yang terus berkembang.
Baca Juga: Stasiun Whoosh Karawang Akan Beroperasi 24 Desember 2024, Cek Harga Tiketnya!
“Pemimpin harus secara aktif mendengarkan feedback, memberikan kesempatan untuk kemajuan karir, dan menumbuhkan lingkungan yang saling menghormati,” jelasnya.
Selain itu, perusahaan juga harus bisa menerapkan pengaturan kerja yang fleksibel, gaji yang kompetitif, dan pengakuan atas kinerja.
Bester percaya, dengan mengambil langkah-langkah proaktif ini maka perusahaan dapat membangun kembali kepercayaan karyawan, memperkuat keterlibatan, dan mengurangi rasa frustrasi yang mendorong revenge quitting. (Elga Windasari)