"Suami saya yang memasak, dan saya yang mengurus renovasi rumah. Dia tidak punya ego yang besar. Mungkin itu sebabnya hubungan kami berjalan baik," ungkapnya.
Puttergill juga menekankan bahwa banyak klien wanitanya bekerja keras untuk mengembangkan diri. Ini termasuk menjadi lebih tangguh secara emosional dan memastikan bahwa mereka tidak mencari pasangan hanya untuk status.
Baca Juga: Proyek Strategis yang akan Dibiayai Danantara dan Cara Pengelolaan Dananya, Tak akan Kebal Hukum!
Selain itu, penting bagi wanita untuk menerima bahwa pasangan mereka tidak harus berpenghasilan lebih tinggi.
"Keinginan untuk dilindungi sudah tertanam dalam psikologi wanita, dan uang sering dianggap sebagai simbol keamanan. Tapi ini tidak masuk akal karena banyak wanita di perbankan sudah mandiri secara finansial," jelas Puttergill.
Sebagai alternatif, wanita bisa mencari kualitas lain pada pasangan, seperti kehadiran, stabilitas emosional, kedewasaan, dan komitmen dalam hubungan.
Managing Director tadi menambahkan bahwa tanpa dukungan suaminya, dia mungkin tidak bisa menjalani pekerjaannya dengan baik.
"Saya punya suami yang tidak mempertanyakan jadwal perjalanan saya, dan selalu memastikan ada makan malam di rumah saat saya pulang larut," katanya.
Baca Juga: Ini Profil Lukita Maxwell Pemain Shrinking yang Menang SAG Awards, Ternyata Ibunya Orang Indonesia
Namun, tetap saja lajang juga bukan masalah. "Data menunjukkan bahwa wanita paling bahagia adalah mereka yang lajang dan tidak memiliki anak," tukas Puttergill.
Menurutnya, status hubungan tidak seharusnya dijadikan tolok ukur kebahagiaan. "Ada banyak pasangan yang tidak bahagia di luar sana, sama seperti orang-orang yang masih sendiri," tambahnya.
Jadi, jika kamu bekerja di perbankan dan merasa kesulitan dalam kehidupan asmara, ingatlah bahwa kamu tidak sendirian. Yang penting, cari pasangan yang mendukung dan memahami dinamika pekerjaanmu.