Selain itu, Walters memanfaatkan referensi karyawan di LinkedIn. Jika mengenal seseorang di perusahaan yang dituju, ia lebih dulu meminta referensi sebelum memberikan lamaran.
Jika tidak, ia mencari karyawan aktif di LinkedIn dan menghubungi mereka untuk rekomendasi. Meski tidak mendapat respons dalam beberapa jam, ia tetap mengajukan lamaran sebelum hari berakhir.
Baca Juga: 5 Dos & Don’ts Pakai AI untuk Melamar Pekerjaan Biar Nggak Blunder dan Bikin Lamaranmu Ditolak
Manfaatkan AI dengan cerdas
Walters menggunakan AI seperti ChatGPT untuk membantu menyusun resume dan lamaran kerja dengan lebih cepat.
Namun, ia menghindari browser tambahan yang secara otomatis mengirim lamaran ke ratusan lowongan karena berisiko melamar pekerjaan yang tidak relevan.
Ia juga mengingatkan agar tidak sekadar copy paste hasil AI plek-ketiplek. Ini karena resume tetap membutuhkan sentuhan manusia agar terasa lebih natural dan tidak kaku.
Kelola ekspektasi dan penolakan
Bagi Walters, mencari pekerjaan adalah latihan menghadapi penolakan. Tidak semua lamaran akan membuahkan hasil, tetapi yang terpenting adalah terus melangkah dan menemukan perusahaan yang paling sesuai.
Ia juga percaya bahwa “berkhayal” atau berpikir positif bisa membantu menjaga semangat.
Baca Juga: Simak Cara Membuat CV ATS Friendly dari Template-nya
“Anggap saja kamu sudah mendapatkannya. Lalu, pastikan kamu bekerja keras untuk membuktikannya,” sarannya.
Menurutnya, semakin kamu nggak bisa move on dengan penolakan, akan semakin berkurang kepercayaan diri kamu saat wawancara kerja.
Sebaliknya, menjaga sikap positif dapat memperbesar kesempatan untuk memperoleh pekerjaan yang tepat. (Elga Windasari)