- The IKEA effect
Trik ini memanfaatkan nilai lebih pada barang yang yang dibuat orang dengan usahanya sendiri.
Semakin besar usaha yang dikeluarkan, maka semakin besar rasa keterikatan terhadap barang tersebut. Salah satu contohnya adalah merakit furniture sendiri.
- The power of free
Jika sesuatu ditawarkan secara gratis, orang cenderung ingin memilikinya, meskipun tidak membutuhkannya.
Konsep "gratis" ini seringkali dipandang sebagai keuntungan yang sangat menarik dan sulit untuk dilewatkan, meskipun barang tersebut tidak diperlukan.
- The contrast effect
Barang yang lebih murah akan terlihat lebih menarik jika dibandingkan dengan produk yang lebih mahal.
Strategi ini kerap diterapkan dengan menempatkan produk berharga lebih rendah di samping produk premium sehingga menciptakan kesan bahwa produk tersebut jauh lebih terjangkau.
Baca Juga: Cara Mendapatkan Pekerjaan di Bidang Digital Marketing, Lulusan SMK Juga Punya Peluang!
- The paradox of choice
Terlalu banyak pilihan bisa membuat orang bingung dan menghindari pembelian.
Ini membuat banyak tim marketing yang justru membuat pilihan lebih terbatas yang cenderung mendorong keputusan pembelian karena proses memilih menjadi lebih sederhana dan tidak membingungkan.
- Anchoring Bias
Banyak konsumen yang menjadikan harga pertama sebagai patokan.
Misalnya, jika harga pertama Rp500.000, konsumen akan menganggap harga Rp300.000 lebih terjangkau, meskipun tetap mahal.
- Endowment Effect
Orang cenderung lebih menghargai barang yang dirasa sudah menjadi milik mereka.
Begitu muncul rasa memiliki, barang tersebut akan terasa lebih berharga, sehingga lebih sulit untuk dilepaskan meskipun nilainya lebih rendah dari saat pertama dibeli. (Elga Windasari)