Karena Pembelian Juga Didasarkan Emosi dan Persepsi, Ini 9 Konsep Neuromarketing yang Harus Diketahui

photo author
Sigit Triwahyu, Pejuang Kantoran
- Selasa, 15 April 2025 | 11:30 WIB
Penawaran diskon adalah salah satu cara neuromarekting. (Freepik)
Penawaran diskon adalah salah satu cara neuromarekting. (Freepik)

Pejuangkantoran.com - Banyak orang dengan tanpa sadar tergoda oleh suatu produk atau jasa, tanpa memikirkan benar-benar diperlukan atau tidak.

Sikap inilah yang dimanfaatkan untuk dijadikan kampanye oleh tim pemasaran, yang disebut dengan neuromarketing. Dengan menerapkan hal tersebut, otak para target sedang dipengaruhi dengan cara yang positif.

Dalam dunia pemasaran, menjelaskan fitur produk bukanlah satu-satunya kunci. Ini karena konsumen cenderung membuat keputusan berdasarkan emosi dan persepsi, bukan semata-mata karena pertimbangan logis. 

Neuromarketing merupakan perpaduan antara ilmu saraf dan psikologi yang digunakan untuk memahami bagaimana otak mengambil keputusan saat membeli.

Pendekatan ini membantu menciptakan strategi pemasaran yang membuat proses pembelian terasa alami dan tidak terkesan dipaksakan.

Berikut adalah sembilan konsep neuromarketing yang sering dimanfaatkan oleh jenama ternama untuk membentuk keputusan konsumen dalam membeli.

Baca Juga: Cara Menulis CV untuk Posisi Online Content Marketing dan Contohnya, Jangan Sampai Salah!

  1. Framing effect

Cara informasi disampaikan dapat membentuk persepsi audiens terhadap nilai dari penawaran tersebut.

Sebagai contoh, frasa "hemat 20%" terdengar lebih menarik dibanding "diskon 100 ribu", meskipun keduanya memiliki nilai yang sama.

Ini karena penyampaian dengan nada positif membuat orang lebih mudah merasa diuntungkan.

  1. Affordability illusion

Trik marketing ini adalah membagi jumlah besar menjadi cicilan kecil membuatnya terasa lebih terjangkau.

Misalnya, Rp997 ribu terasa mahal, tapi Rp97 per bulan lebih mudah diterima. Ini memanfaatkan cara otak memproses pembayaran yang terbagi.

  1. The rule of 3

Ketika diberikan tiga pilihan, yaitu murah, menengah, dan mahal, orang cenderung memilih yang tengah.

Pilihan ini dianggap paling aman sehingga membantu meningkatkan kemungkinan pembelian.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Sigit Triwahyu

Sumber: LinkedIn @Joebern Pongyan & Chris Donnelly

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X