Pejuangkantoran.com - Burnout adalah salah satu “wabah” yang tak terlihat di tempat kerja saat ini. Mentalitas “selalu aktif” dan etos kerja yang serba cepat menumbuhkan lingkungan dan budaya di tempat kerja yang berdampak buruk dan merusak.
Selain itu, ini juga bisa merugikan kesejahteraan, efektivitas bekerja , dan prospek karir jangka panjang karyawan.
Mengatasi burnout lebih dari sekadar melihat ke cermin dan memotivasi diri sendiri.
Ini adalah masalah yang lebih dalam dan jika tidak ditangani dapat berakibat pada masalah kesehatan mental yang mengkhawatirkan.
Berikut adalah pendekatan dan keterampilan pemimpin untuk membantu mencegah burnout, yang juga mampu membuat karyawan lebih produktif.
- Berdayakan dengan menciptakan kesadaran
Burnout seringkali hanya teridentifikasi secara retrospektif atau dengan metode yang melihat ke belakang.
Padahal, kepemimpinan yang efektif harusnya dapat menggunakan analisis untuk menghindarinya secara dini.
Caranya adalah dengan secara proaktif mengukur dan mengawasi penurunan produktivitas, serta meningkatnya ketidakhadiran dan lonjakan atau penurunan keterlibatan.
Dengan begitu, pemimpin bisa menilai perasaan karyawan tentang pekerjaan dan perusahaan, lalu merespons dengan empati dan mencari solusi untuk memperbaiki situasi.
Baca Juga: Kenali Lebih Dulu Jenis Burnout yang Kamu Alami Agar Tahu Cara Mengatasinya
- Bina tenaga kerja yang gesit dan adaptif
Burnout diperparah dengan kebijakan kerja yang tidak fleksibel dan persepsi ekspektasi yang tidak masuk akal. Ini membuat karyawan merasa tidak memiliki kendali atas hidup mereka saat bekerja.
Perusahaan harus bisa menunjukkan fleksibilitas, seperti penyediaan opsi untuk jadwal kerja, mendorong penggunaan liburan dan cuti, serta menumbuhkan budaya agar karyawan merasa nyaman untuk mengatakan “tidak”.
- Mendukung kesejahteraan mental karyawan
Sekarang, banyak perusahaan yang menawarkan program pendidikan kesehatan mental hingga aplikasi self-help dan meditasi atau bahkan dapat mengakses terapis dan program perawatan.
Program seperti ini membantu menormalisasi diskusi kesehatan mental dan mendorong karyawan untuk mencari bantuan.