Untuk karyawan baru
Karyawan baru umumnya memiliki masalah transparansi yang terkait dengan tunjangan dan fasilitas di tempat kerja.
Misalnya, perusahaan menuliskan bahwa mereka memberikan tunjangan kesehatan dalam lowongan pekerjaan. Namun, setelah mulai bekerja di sana, baru dijelaskan bahwa tunjangan kesehatan baru bisa didapatkan setelah minimal tiga bulan bekerja.
Ketidakjelasan lain yang juga sering dilakukan perusahaan adalah soal jatah cuti. Rekruter sering kali tidak menjelaskan berapa banyak jatah cuti yang diberikan dan syarat-syaratnya saat proses rekrutmen, dan baru memberitahu setelah diterima.
Beberapa perusahaan juga sering mempromosikan fasilitas kantor, tetapi kenyataannya tidak tersedia dengan berbagai alasan. Situasi seperti inilah yang bisa menyesatkan karyawan.
Untuk karyawan jangka panjang
Beberapa karyawan jangka panjang mungkin mengalami kurangnya transparansi seputar pengembangan karir.
Misalnya, saat evaluasi pertengahan atau akhir tahun sebagai tolok ukur untuk mencapai promosi berikutnya, kamu hanya diminta untuk bertindak “lebih strategis” dan tidak diberi tujuan atau harapan yang lebih konkret.
Baca Juga: Pencari Kerja Juga Bisa Pakai AI Career Coach, Bisa Dipersonalisasi sesuai Kebutuhan Pengguna Lagi!
Ini tentu saja bisa membuat kebingungan atau ketidakjelasan mengenai langkah apa yang harus dilakukan selanjutnya.
Situasi lain yang sering terjadi adalah karyawan kerap menerima pujian tinggi selama tinjauan tahunan, tetapi tidak menerima promosi atau kenaikan gaji. Ini bisa membuat karyawan merasa di-PHP oleh perusahaan.
Intinya, tidak adanya komunikasi terbuka dan/atau feedback konstruktif yang berlangsung dua arah, dapat mengindikasikan kurangnya transparansi di tempat kerja, yang dapat berdampak pada semangat kerja.