Pejuangkantoran.com - Dalam dunia kerja, proses perekrutan ternyata tidak hanya bergantung pada kemampuan teknis kandidat. Namun, kesan kepribadian yang ditangkap oleh pewawancara juga sangat berpengaruh.
Sebuah laporan terbaru dari Textio, platform yang membantu profesional SDM, mengungkapkan bahwa penilaian kepribadian sering menjadi faktor utama dalam menentukan kandidat yang akhirnya diterima bekerja.
Berdasarkan analisis terhadap lebih dari 10 ribu hasil penilaian wawancara terhadap sekitar 3.900 kandidat di Amerika Utara, ditemukan bahwa manajer perekrutan cenderung lebih menyoroti kesan pribadi.
Sikap seperti keramahan, antusiasme, dan kepribadian yang menyenangkan, lebih dinilai dibandingkan keterampilan teknis yang relevan dengan pekerjaan.
Temuan ini mengindikasikan bahwa keputusan perekrutan cenderung dipengaruhi oleh rasa suka dan ketidaksukaan pribadi.
Kieran Snyder, salah satu pendiri Textio, menjelaskan bahwa bias ini sudah muncul sejak tahap awal proses perekrutan, bahkan terlihat jelas dari perbedaan cara perekrut menggambarkan pria dan wanita yang diwawancarai.
Baca Juga: Perusahaan Harus Waspada Terhadap Potensi Pelamar Menggunakan Deepfake di Proses Perekrutan
Perbedaan feedback berdasarkan gender
Feedback yang diterima oleh pria dan wanita setelah wawancara ternyata sangat berbeda.
Kandidat perempuan yang menerima tawaran kerja umumnya dipersepsikan sebagai sosok yang ceria, ramah, dan memiliki sikap sopan.
Sementara pria yang diterima lebih sering disebut sebagai orang yang berkepala dingin, percaya diri, dan kuat.
Meskipun sikap ceria bukanlah hal yang buruk, tetapi sifat ini jarang dianggap sebagai kualitas yang membawa seseorang ke posisi pemimpin atau jenjang karir yang lebih tinggi.
Bersikap ramah justru bisa membatasi peluang karir, terutama bagi wanita yang sering dinilai lebih berdasarkan sifat ini.
Lauren Rivera, sosiolog dari Northwestern University, menambahkan bahwa wanita seringkali dinilai lebih berdasarkan kehangatan dan keramahan daripada kompetensi.