Di lingkungan kerja yang tidak sehat, di mana orang tidak mendukung komunikasi yang terbuka, karyawan (termasuk atasan) mungkin tidak merasa aman untuk menyampaikan pendapat secara langsung.
Akhirnya, mereka memilih “jalan belakang” dengan sikap pasif-agresif.
Baca Juga: Meski Tak Boleh Berbohong di CV, Tapi 2 Hal Ini Masih “Diperbolehkan” dan Dianggap Wajar. Apa Itu?
3. Lebih mudah bersikap menyakitkan
Kadang, lebih mudah melontarkan sindiran ketimbang menghadapi konflik secara dewasa. Sayangnya, orang yang bersikap pasif-agresif sering kali menyimpan rasa cemas, stres, bahkan depresi sehingga menyembunyikannya di balik perilaku mereka.
Lalu, kamu harus bagaimana?
Menghadapi atasan yang pasif-agresif itu nggak mudah. Namun, memahami alasan di balik sikap mereka bisa membantu kamu lebih tenang dan tidak langsung menyalahkan diri sendiri.
Coba perkuat kepercayaan diri kamu, fokus pada pekerjaan, dan bangun komunikasi yang terbuka semampu yang kamu bisa.
Jika situasinya terus memburuk dan mulai mengganggu kesehatan mental kamu, mungkin sudah saatnya bicara dengan HRD atau mencari lingkungan kerja yang lebih sehat.
Baca Juga: Jangan Langsung Tersulut Emosi, Lakukan 4 Langkah Ini Jika Atasan Bersikap Pasif-Agresif
Ingat, kamu berhak dihargai dan bekerja di tempat yang mendukung kamu berkembang.
Jika atasan pasif-agresif menghalangi kamu mendapatkannya, mungkin sudah saatnya mencari tempat kerja lain yang lebih baik.