Tidak seperti soft skill, tidak ada area abu-abu dalam hal hard skill selama dan setelah proses perekrutan. Singkatnya, kamu tidak akan lolos begitu saja.
Hard skill bukan tentang kepribadian, melainkan kemampuan. Ini adalah keterampilan yang nyata, terukur, dan sering kali bersifat teknis, yang harus kamu tunjukkan selama perekrutan atau setelahnya.
Keterampilan ini diperoleh dari pendidikan dan pengalaman langsung, jadi kamu tidak bisa berpura-pura atau bohong di CV bahwa kamu menguasainya.
Baca Juga: Dari Dapur di Serpong, melalui Expo BRI Produk Sambal Sanrah Food Makin Dikenal di Mancanegara
Jika kamu melamar pekerjaan yang membutuhkan keahlian dan keterampilan praktis atau terapan, kemungkinan besar ini akan diuji sebelum perekrutan melalui wawancara teknis atau penilaian yang bisa dibawa pulang.
Bahkan jika kamu cukup beruntung untuk mendapatkan pekerjaan tanpa dites terlebih dahulu, ketidakmampuan kamu ini akan diketahui oleh rekan kerja dan atasan saat mulai bekerja.
Untuk urusan hard skill, lebih baik jujur dan bermain aman daripada berbohong dan mengambil risiko.
Selain kehilangan kesempatan kerja atau dipecat, perusahaan juga bisa memasukkan kamu ke dalam daftar “jangan dipekerjakan” permanen yang akan memupuskan harapan untuk bekerja di sana di masa depan.
Mencari pekerjaan memang sulit, tetapi penting untuk diingat bahwa bohong di CV bukan langkah yang tepat.