• Sesuaikan pertanyaan dengan situasi dan orang yang diajak bicara.
• Coba latihan bertanya setiap hari, entah itu di obrolan santai atau saat rapat.
• Kalau bisa, tambahkan pertanyaan lanjutan atau follow-up question supaya topik lebih dalam.
Semakin sering berlatih, maka kemampuan kamu akan terasa semakin alami.
Baca Juga: Pendaftaran Beasiswa Chevening 2026–2027 Resmi Dibuka! Kirimkan Lamaran Kamu sebelum 7 Oktober 2025
Cara bertanya tanpa terdengar “bodoh” atau mendominasi
Jika kamu ingin bertanya soal teknis, tetapi tidak ingin terkesan benar-benar tidak mengerti, mulailah dengan menunjukkan sedikit pemahaman. Misalnya:
“Dari yang saya baca, X itu biasanya bekerja seperti ini. Nah, bagaimana kalau diterapkan di kondisi ini?”
Pertanyaan seperti ini menunjukkan kalau kamu sudah berusaha belajar dulu sebelum bertanya.
Lalu, jika kamu ingin bertanya di rapat tanpa terdengar mendominasi, sebaiknya gunakan nada kolaboratif. Contohnya:
“Saya mau memahami lebih jauh tentang…”
“Bisa nggak kita lihat dari sudut pandang ini juga?”
Jadi, pertanyaan kamu terdengar seperti kontribusi, bukan interogasi.
Baca Juga: 5 Tipe Bos yang Bisa Memicu Imposter Syndrome, Bagaimana Cara Terbaik Menghadapinya?
Kapan pertanyaan terbuka sebaiknya dihindari?
Jika waktu kamu untuk bertanya tidak banyak atau membutuhkan jawaban pasti dan cepat, kamu sebaiknya menghindari pertanyaan terbuka. Misalnya dengan langsung bertanya:
“Apa langkah selanjutnya?”
“Siapa yang akan mengerjakan bagian ini?”
Di situasi ini, kamu juga harus bisa membaca situasi, kapan sebaiknya berhenti bertanya. Perhatikan saja bahasa tubuh dan nada suara orang yang diajak bicara.
Kalau mereka mulai menjawab singkat atau terlihat ingin lanjut ke topik lain, hentikan dengan merangkum jawaban mereka dan ucapkan terima kasih.