Studi OECD pada 2017 bahkan menegaskan bahwa keterampilan seperti ketahanan, optimisme, dan pengendalian emosi adalah faktor paling berpengaruh untuk kesehatan mental.
Dari semua itu, optimisme memiliki hubungan paling kuat dengan kepuasan hidup seseorang.
Optimisme membuat hidup lebih ringan
Sebuah penelitian pada tahun 2019 menemukan bahwa orang yang optimis lebih mudah menghadapi stres. Mereka cenderung mencari solusi secara aktif, menafsirkan situasi sulit dengan cara yang lebih positif, dan akhirnya lebih jarang larut dalam kekhawatiran.
Baca Juga: Lowongan Kerja: Experienced Flight Attendant Citilink
Bahkan, tidur mereka pun jadi lebih nyenyak karena pikiran tidak dipenuhi kecemasan berulang.
Intinya, optimisme bukan sekadar “pola pikir positif” yang klise.
Ini adalah keterampilan nyata yang bisa meningkatkan kebahagiaan, mengurangi stres, dan mendorong performa kerja.
Sebagai pemimpin, membawa energi optimis ke dalam tim berarti membantu orang lain merasa lebih berdaya, lebih kreatif, dan lebih semangat.
Seperti kata Phil Waugh, kepemimpinan yang baik seharusnya bisa memberi energi, bukan yang menimbulkan tingkat kelelahan yang tinggi dan menguras energi.
Dengan optimisme tinggi, hal itu bukan hanya mungkin, tetapi terbukti bisa membawa kesuksesan bersama.