Pejuangkantoran.com – Job hugging atau mempertahankan pekerjaannya meskipun itu bukan pekerjaan yang ideal, memang sedang fenomenal belakangan ini. Alasan yang paling relevan saat ini adalah karena ketidak pastian ekonomi, pasar kerja yang sulit sementara gelombang lay off masih saja terjadi.
Jadi, job hugging saat ini sifatnya taktis agar pelaku masih punya pekerjaan tetap formal yang pendapatannya bisa diandalkan untuk bertahan hidup.
Tentu saja, keputusan taktis seperti ini membawa konsekuensi-konsekuensi, yaitu:
- Karier dan keterampilan tidak berkembang
Bila pekerja terlalu lama di satu posisi tanpa tantangan baru, ia bisa kehilangan kesempatan mengembangkan keterampilan, terjebak zona nyaman, dan menjadi kurang kompetitif jika pasar kerja membaik. - Pertumbuhan gaji yang lebih rendah dibandingkan job-hoppers
Berpindah kerja sering kali memberikan kenaikan gaji lebih signifikan dibanding tetap. Pelaku job hugging mungkin kehilangan peluang mendapatkan pemdapatan yang lebih tinggi. - Kehilangan motivasi
Pelaku job hugging dengan alasan takut atau demi keamanan (pendapatan tetap setiap bulan), bisa menjadi kurang bersemangat, bekerja karena kewajiban, kurang inovatif. Ini bisa meningkatkan stres psikologis, rasa tidak puas, atau burnout. - Keterbatasan mobilitas dan peluang eksternal
Karena lebih memilih bertahan, pekerja mungkin melewatkan peluang karier yang lebih baik di tempat lain. Selain itu jaringan profesional pun mungkin tidak berkembang.
Strategi Melakukan Job Hugging
Agar ketika kamu melakukan job hugging dan terhindar dari konsekuensi-konsekuensi tersebut di atas, maka strategi berikut ini yang harus kamu lakukan:
- Jadikan “bertahan” sebagai strategi sadar
- Jangan hanya bertahan karena takut, tapi buat alasan yang jelas: misal, menunggu situasi ekonomi stabil, menyelesaikan target tabungan, atau mengasah skill baru. Ini harus kamu lakukan agar kamu merasa mengendalikan keputusanmu (job hugging), bukan terjebak.
- Bangun pengembangan diri meski tidak pindah kerja
- Ikut pelatihan internal atau kursus online (banyak yang gratis/terjangkau).
- Fokus ke soft skills (komunikasi, negosiasi, leadership) dan hard skills (sesuai bidang: IT, data, manajemen, bahasa, dan sebagainya).
- Catat pencapaianmu di pekerjaan sekarang untuk jadi modal karier berikutnya.
- Cari tantangan di dalam pekerjaan
- Ambil proyek tambahan atau peran lintas divisi kalau ada kesempatan.
- Aktif memberi ide perbaikan di kantor. Ini bisa membuatmu tetap berkembang dan tidak sekadar “jalan di tempat” serta meningkatkan reputasimu di internal perusahaan.
- Tetap bangun jaringan (networking)
- Ikut komunitas profesional (LinkedIn, asosiasi bidang kerja, webinar).
- Jaga kontak dengan teman yang sudah pindah kerja, karena ini bisa jadi pintu peluang di masa depan.
- Networking menjaga kamu tidak kehilangan jejak pasar kerja meski sementara bertahan.
Baca Juga: Ini Kunci! Mengembangkan Keterampilan Baru Penting Bagi Karyawan Maupun Perusahaan!
- Siapkan “Plan B” secara diam-diam
- Perbarui CV dan profil LinkedIn secara berkala.
- Pantau lowongan kerja, meski belum melamar supaya kamu tahu tren skill dan gaji terbaru. Dengan begitu, ketika situasi lebih baik, kamu siap bergerak cepat.
- Tentukan batas waktu
- Misalnya: “Saya akan bertahan di pekerjaan ini maksimal 2 tahun sambil memperkuat tabungan dan skill A, B, C.”
- Setelah itu lakukan evaluasi, apakah kamu akan lanjut bertahan, atau mulai cari peluang baru.
Pada intinya, job hugging bisa sehat kalau kamu perlakukan sebagai strategi sementara dengan disertai agenda pengembangan diri.
Di sisi lain, job hugging jadi tidak sehat kalau hanya pasif dan tanpa arah dengan risiko karier mandek, motivasi turun, peluang terlewat.
***