kubikel

Alih-alih Melakukan Work-Life Balance, Lakukan Work-Life Integration yang Lebih Realistis Saat Ini

Kamis, 30 Oktober 2025 | 17:31 WIB
Work-life integration dirasa lebih realistis saat ini, karena bisa dengan mudah berganti peran dengan bantuan teknologi. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)

Misal, bisa jadi di siang hari kamu mengurus orang tua yang sudah sepuh dan anak-anak, namun pada malam harinya kamu mengerjakan tugas-tugas freelance.

Selain itu, prinsip ini membutuhkan transisi yang lancar. Maksudnya, orang bisa dengan mudah beralih peran, dari seorang ibu rumah tangga di siang hari, menjadi freelance writer di malam hari.

Kemudahan ini didukung dengan teknologi. Misal, memeriksa email sambil menunggu menjemput anak-anak dari sekolah.

Ide utama lainnya adalah tugas-tugas yang bisa dipersonalisasi. Maksudnya, setiap orang bisa bekerja berdasarkan gaya hidup, tujuan, dan pola energi mereka yang belum tentu sama dengan orang lain.

Misal, seorang programer yang mengikuti remote meeting dari kedai kopi dekat stadion di mana ia baru saja menyelesaikan sesi 10K-nya di pagi hari.

Baca Juga: 5 Tipe Pekerja yang Paling Diuntungkan dengan Pelacakan Work-life Balance

Work-life integration ini punya banyak manfaat, yaitu

  • Otonomi dan efisiensi waktu yang lebih besar;
  • Mengurangi stres karena harus mematuhi "jam kerja" yang ketat;
  • Potensi kepuasan kerja dan kesejahteraan pribadi yang lebih tinggi.

Tentu saja pola seperti ini punya banyak tantangan yang harus kamu lewati terlebih dahulu, yaitu:

  • Risiko batas yang kabur (pekerjaan tidak pernah sepenuhnya "berakhir");
  • Kemungkinan kelelahan jika tidak dikelola dengan baik;
  • Membutuhkan kepercayaan dan komunikasi yang jelas dengan perusahaan atau tim.

Nah, sepertinya saat ini, work-life integration jauh lebih realistis untuk dijalankan, bukan? ***

Halaman:

Tags

Terkini