PejuangKantoran.com - Setiap tahun, banyak karyawan naik jabatan dan mendapatkan peran manajerial pertama mereka. Ini tentu jadi momen besar karena terasa seperti pintu menuju karier yang lebih sukses.
Namun, di balik semangat dan kebanggaan itu, banyak jebakan yang sering tidak terlihat. Para manajer baru biasanya langsung diharapkan bisa memimpin, mengarahkan tim, dan membuat keputusan penting.
Padahal sering kali mereka tidak diberi panduan yang cukup. Akibatnya, banyak yang akhirnya terjebak dalam mitos kepemimpinan yang berisi nasihat yang terdengar bijak, tetapi sebenarnya bisa menyesatkan.
Baca Juga: Microshifting, Cara Kerja Fleksibel yang Membantu Karyawan Bekerja di Waktu Terbaik Mereka
Seperti apa sih, mitos kepemimpinan yang sering menjebak para manajer baru?
1. “Buka diri, tunjukkan sisi manusiawi kamu”
Belakangan ini, banyak orang bilang bahwa pemimpin yang baik itu harus terbuka, jujur, dan tidak takut menunjukkan sisi manusiawinya. Kedengarannya bagus, kan?
Namun, ternyata jika dilakukan tanpa batas, justru bisa jadi bumerang. Terlalu sering curhat atau menunjukkan emosi di depan tim bisa membuat suasana kerja jadi tidak nyaman.
Menurut riset dari Badan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Eropa (EU-OSHA) pada 2024, 59% pekerja di Eropa menyebut tuntutan emosional sebagai penyebab stres utama.
Ketika atasan terlalu “meluap-luap”, beban emosional itu bisa pindah ke tim dan membuat karyawan merasa seperti harus menenangkan bosnya, bukan fokus bekerja.
Baca Juga: Punya Fan Base yang Kuat, Pertaruhan The Series 3 Hadirkan Banyak Pemain dan Martial Arts yang Baru
Artinya, menjadi pemimpin yang punya empati itu penting, tetapi tetap perlu ada kontrol. Kerentanan yang tidak terarah bukan tanda kekuatan, justru bisa membuat kepercayaan tim menurun.
2. “Jadilah diri kamu sendiri”
Nasihat untuk menjadi diri sendiri mungkin terdengar bijak, tetapi di dunia kerja ini bisa jadi masalah besar. Karena kalau “diri sendiri” itu membuat kamu menunjukkan sisi diri kamu yang mudah cemas, mudah tersinggung, atau suka bereaksi tanpa pikir panjang, hal itu malah membuat hubungan di dalam tim jadi tidak stabil.
Menurut laporan Gallup di 2024, hanya 13% pekerja di Eropa merasa benar-benar terlibat di tempat kerja, dan salah satu penyebabnya adalah kurangnya konsistensi dari atasan. Tim tidak butuh pemimpin yang “mentah”, melainkan yang bisa diandalkan.