Pekerja yang menahan stres tanpa mencari bantuan sering kali tetap bertahan hingga akhirnya “meledak”. Entah dengan mengambil cuti panjang, kehilangan motivasi, atau bahkan resign.
Akibatnya, perusahaan bisa mengalami:
- Kenaikan cuti sakit di awal tahun karena kelelahan yang tertunda.
- Turunnya semangat kerja di masa sibuk menjelang akhir tahun.
- Tingkat keluar-masuk karyawan yang meningkat karena orang memilih pergi daripada berbicara soal masalah mereka.
Dengan kata lain, menunggu sampai Januari untuk menjalankan program kesejahteraan karyawan sudah terlambat. Tekanan sudah datang lebih dulu, yaitu di akhir tahun.
Apa yang bisa dilakukan perusahaan?
Agar hal ini tidak berlanjut, perusahaan perlu lebih proaktif. Misalnya:
- Mulai lebih awal. Jalankan program atau kampanye kesehatan mental pada September, bukan menunggu awal tahun.
- Latih para manajer. Beri mereka kemampuan untuk mengenali tanda-tanda kelelahan dan melakukan percakapan yang empatik.
- Tunjukkan bahwa bantuan itu ada. Pastikan semua orang tahu tentang layanan konseling, dukungan kesehatan, atau program kesejahteraan lain yang tersedia.
- Berikan fleksibilitas. Atur ulang jadwal kerja bagi karyawan yang sedang menghadapi tekanan keluarga atau rutinitas tambahan.
Baca Juga: Pilih Ordal untuk Menempati Jabatan Penting Tidak Selalu Buruk, Kadang Justru Ini yang Terbaik
Tips untuk kamu sebagai karyawan