Pejuangkantoran.com – Pernahkah kamu mengalami ini: sudah siap tarik selimut buat tidur, tiba-tiba ada notifikasi pesan masuk. Dilihat dari bos di kantor, dan begitu dibuka, pesan yang tertulis: “Tolong kirimkan data monitoring tiga bulan terakhir, ya. ASAP!”
Daaangg!!! Mata yang semula sudah 5 Watt, menjadi terang benderag lagi. Penyebabnya antara panik dan kesal. Panik karena bos kalau sudah kirim pesan biasanya memang urgent sekali. Kesal karena sudah waktunya istirahat, sudah jam 22:00.
Ini adalah kondisi yang bisa disebut sebagai blurred boundaries. Ini adalah kondisi ketika batas antara dua area yang seharusnya terpisah dengan jelas menjadi kabur, tumpang-tindih, atau tidak lagi memiliki garis pemisah yang tegas.
Istilah ini paling sering digunakan dalam konteks kerja-kehidupan pribadi, hubungan interpersonal, atau peran profesional, terutama dalam era digital dan kerja fleksibel.
Istilah blurred boundaries makin popular karena sejumlah kondisi seperti berikut:
- Pekerjaan hybrid/remote membuat jam kerja fleksibel tapi tidak jelas.
- Teknologi membuat orang selalu tersambung (always-on culture).
- Media sosial membuat kehidupan personal dan publik bercampur.
Baca Juga: Burnout vs Boreout Sama-Sama Bisa Bikin Kamu Kelelahan, tapi Beda Akar Masalahnya
Sebuah studi yang dilakukan oleh Helen Pluut dan Fisioterapis dan terapis gaya hidup Jaap Wonders dari SMC Rijnland yang diterbitkan pada 21 Januari 2021 menunjukkan fenomena blurred boundaries ini.
Helen Pluut melakukan penelitian selama gelombang pertama COVID-19 tentang pengalaman para pekerja. Penelitian ini dilakukan karena banyak orang melakukan work from home (WFH). WFH memberikan konsekuensi kaburnya batasan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Pola bekerja WFH ini terus berlanjut pasca pandemi, dan sekarang banyak orang bekerja dari rumah dan terhubung satu sama lain secara daring. Ini menyebabkan batasan antara pekerjaan dan rumah menjadi semakin kabur.
Menurut Helan, konsekuensinya serius. Kaburnya batasan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menyebabkan kelelahan emosional, mengalami gangguan tidur, kurang berolahraga, kurang makan sehat, dan kurang mampu bersantai.
Dalam konteks kerja (work–life boundaries), blurred boundaries contohnya adalah always-on work culture.
Baca Juga: Alih-alih Melakukan Work-Life Balance, Lakukan Work-Life Integration yang Lebih Realistis Saat Ini
Always-On Work Culture
Ini adalah adalah budaya kerja di mana karyawan dianggap (atau merasa) harus selalu siap, responsif, dan tersedia untuk urusan pekerjaan kapan saja, bahkan di luar jam kerja resmi, seperti di malam hari, akhir pekan, atau saat sedang istirahat.