STEP 3 — Petakan masalah dan kebutuhan audiens
Gunakan pendekatan problem-based mapping beradasarkan audiens. Buatlah daftar:
- Kesulitan utama audiens;
- Pertanyaan yang sering muncul dari audiens;
- Kesalahan umum yang dialami audiens;
- Kebutuhan praktis audiens.
Contoh:
- Freelance tidak paham dengan SOP sebagai tenaga lepas.
- Work-life balance.
- Manajemen waktu.
Output step 3: Buat daftar 10–20 masalah nyata yang sering terjadi pada audiens.
STEP 4 — Kelompokkan masalah menjadi tema besar
Mulai membentuk content pillar dengan diawali mengelompokkan masalah yang mirip ke dalam tema inti.
Contoh pengelompokan:
- Tidak paham SOP: Pemahaman tentang dasar konsep standar kerja perusahaan.
- Masalah work-life balance: Memahami konsep dan teknis menjaga work-life balance.
- Manajemen waktu: Teknikal keterampilan profesional.
Prinsip penting:
- Satu pillar, satu fokus;
- Hindari tumpang tindih;
- Idealnya ada 3–5 pillar.
Baca Juga: 12 Skill atau Keterampilan Yang Wajib Dimiliki Seorang Content Creator Specialist!
STEP 5 — Uji relevansi dan kelayakan tiap pillar
Gunakan 3 pertanyaan filter:
- Apakah pillar ini penting bagi audiens?
- Apakah pillar ini selaras dengan tujuan?
- Apakah kamu bisa konsisten memproduksi konten di pillar ini?
Jika salah satu jawabannya “tidak”, maka revisi atau buang pilar tersebut.
STEP 6 — Beri nama pillar yang spesifik dan operasional
Nama pilar harus:
- Deskriptif (jelas isinya);
- Mudah dipahami;
- Bisa jadi “payung konten”.
Kurang baik: Edukasi