Pejuangkantoran.com – Sejak pandemi, gaya kerja work from home (WFH) atau work from anywhere (WFA) atau remote working menjadi salah satu gaya kerja yang disukai, terutama oleh Gen Z.
Ini seperti laporan survei Jakpat terhadap 612 responden yang dimuat di goodstats.id. Dari survei tersebut, muncul fakta bahwa 34% Gen Z di Indonesia lebih menyukai WFA.
Ini sebenarnya sejalan dengan kebijakan beberapa perusahaan yang cenderung memilih gaya kerja WFA/WFH karena secara konsep bisa meningkatkan work-life balance.
Namun dari penelitian yang dilakukan oleh Shizuka Nakamura dan Masanori Kobayashi, yang fokus pada responden pekerja di Jepang menemukan fakta yang harus diwaspadai.
Dari penelitian yang dimuat di link.springer.com ini mengidentifikasi bahwa WFH sebagai penyebab potensial stres yang dialami oleh pekerja di Jepang. Para pekerja Jepang ini mengalami kesulitan “melepaskan diri” dari pekerjaan.
Ini karena batas kehidupan kerja dan kehidupan pribadi (non-kerja) menjadi kabur atau istilahnya blurred boundary. Dan efeknya tidak sehat jasmani dan rohani bagi si karyawan.
Ada sejumlah indikasi yang bisa dilihat apakah seseorang mulai mengalami blurred boundary, yaitu:
1. Tanda pada level pikiran (kognitif)
Indikasi utama:
- Pikiran tentang pekerjaan muncul otomatis di luar jam kerja.
- Sulit “mematikan” pikiran kerja meskipun ingin beristirahat.
- Terus memikirkan hal kecil (email, chat, tugas) yang sebenarnya tidak mendesak.
- Merencanakan pekerjaan saat waktu pribadi tanpa disadari.
Makna psikologis:
Ini menandakan insufficient psychological detachment , otak tidak mendapat sinyal bahwa pekerjaan telah selesai.
2. Tanda pada emosi
Perasaan yang sering muncul:
- Rasa bersalah saat tidak merespons pesan kerja.
- Cemas jika tidak memantau grup kerja.
- Mudah tersinggung di rumah.
- Merasa “tidak pernah benar-benar libur”.
Ciri khas penting:
Tidak ada ancaman nyata, tetapi emosi siaga terus aktif.