4. Latih permission to disconnect
Secara sadar katakan pada diri sendiri: “Saya tetap bertanggung jawab meskipun tidak selalu tersedia.”
Ini penting terutama bagi:
- ASN;
- Manajer;
- Pekerja perfeksionis.
Boundary sehat dimulai dari izin psikologis, bukan teknologi.
5. Ganti multitasking dengan time boxing
Alih-alih “kerja sambil hidup”, supaya lebih efektif, lakukan hal ini:
- Tentukan blok waktu kerja fokus;
- Di luar itu, tidak kerja sama sekali.
Strategi Praktis di Level Relasi Kerja (tim dan atasan)
6. Sepakati aturan komunikasi eksplisit
Contoh kesepakatan sehat:
- Jam pesan kerja: 08.00–17.00;
- Pesan di luar jam kerja tidak wajib dibalas segera;
- Kata “urgent” punya definisi jelas.
Boundary yang sehat harus dinegosiasikan, bukan ditebak.
7. Pisahkan “informasi” vs “instruksi”
Banyak blurred boundary terjadi karena informasi non-urgent disampaikan seperti perintah
Solusi praktisnya, gunakan penanda, misal: “FYI”; “Besok ditindaklanjuti”; atau “Tidak perlu dibalas hari ini”.
8. Teladan dari pimpinan