4. Ekspektasi pimpinan atau publik terlalu tinggi
Ciri:
- Quick win dianggap solusi permanen.
- Diharapkan menyelesaikan semua masalah.
Akibat: ketika hasil terbatas, quick win dinilai gagal meski sebenarnya berhasil secara teknis.
5. Tidak ada ukuran keberhasilan yang jelas
Ciri:
- Tidak ada indikator sebelum–sesudah.
- Keberhasilan hanya “kata-kata”.
Akibat: sulit membuktikan dampak, sehingga menyebabkan momentum hilang.
Baca Juga: 3 Salah Kaprah Yang Biasa Dilakukan Oleh Pemimpin Dalam Menghadapi Masalah Karyawan
6. Kurang kewenangan pengambil keputusan
Ciri:
- Tim quick win tidak bisa mengubah SOP kecil.
- Harus minta izin berlapis.
Akibat: proses lambat, “quick”-nya hilang.
7. Koordinasi lintas unit yang lemah
Ciri:
- Masalah sederhana tapi lintas bagian.
- Tidak ada satu penanggung jawab jelas.
Akibat: karena saling menunggu, quick win mandek.
8. Tidak dikomunikasikan dengan baik
Ciri: