- Pengguna tidak tahu ada perbaikan.
- Pegawai lain tidak tahu perubahan proses.
Akibat: manfaat tidak terlihat, sehingga persepsi publik tetap negatif.
9. Tidak dijaga keberlanjutannya
Ciri:
- Berhasil di awal, lalu kembali ke cara lama.
- Tidak masuk SOP atau kebiasaan baru.
Akibat: quick win hanya “ledakan sesaat”.
Intinya, pola-pola kegagalan quick win yang sering terjadi itu karena:
- Terlalu ambisius;
- Terlalu dangkal;
- Terlalu birokratis;
- Terlalu diam-diam.
Untuk itu perlu solusi praktis agar bisa meminimalkan kendala, yaitu dengan:
- Memilih masalah kecil tapi menyebalkan, karena bisa jadi ini pain point semua pihak.
- Melibatkan pelaksana sejak awal, karena mereka yang paling paham permasalahan di lapangan.
- Menetapkan 1–2 indikator sederhana, ini supaya jelas perubahannya apakah menuju perbaikan atau tidak.
- Memastikan ada kewenangan langsung, agar pelaksana dan tanggung jawab jelas di Pundak siapa.
- Mengomunikasikan hasil secara terbuka, supaya semua pihak yang berkepentingan paham ada perubahan untuk perbaikan.
- Menjadikan hasil masuk SOP, dengan begitu ada panduan yang pasti dan jelas.
***