Pejuangkantoran.com – Bagi kamu, karyawan level manajerial, tantangan terbesar yang sering terjadi adalah bagaimana men-deliver kebijakan dari atasan (perusahaan) kepada anggota tim agar tidak muncul resistensi yang bisa memengaruhi hasil kerja keseluruhan tim dan perusahaan.
Salah satu langkah awal karyawan di level ini sebelum men-deliver kebijakan atasan (parusahaan) adalah melakukan audience mapping terlebih dahulu.
Ini adalah teknik untuk mengidentifikasi, mengelompokkan, dan memahami audiens berdasarkan karakteristik tertentu agar pesan (komunikasi, pemasaran, atau kebijakan) bisa disampaikan secara lebih tepat sasaran dan efektif.
Mudahnya, kamu harus tahu terlebih dahulu siapa yang akan kamu ajak bicara, apa yang mereka pedulikan, dan bagaimana cara terbaik menjangkau mereka.
Secara umum, audience mapping dilakukan dengan sejumlah tujuan, yaitu:
- Menyesuaikan gaya komunikasi (formal, santai, persuasif).
- Menentukan konten yang relevan.
- Memilih channel komunikasi (email, WA, rapat, media sosial).
- Meningkatkan efektivitas persuasi (terkait konsep logos, pathos, ethos yang sebelumnya Anda tanyakan).
Untuk melakukan audience mapping, kamu perlu komponen utama yaitu demografis, psikogafis, perilaku, dan tingkat pengaruh (influence). Berikut penjelasan detailnya:
Baca Juga: 6 Cara Sistematis untuk Memahami Audiens Agar Komunikasi Kamu Menjadi Efektif
Demografis
Dalam komponen demografis, kamu perlu tahu usia jabatan (staf, manajer, atau pimpinan), serta pendidikan.dengan mengetahui komponen ini, kamu jadi tahu harus bicara dari posisi mana agar dianggap relevan dan kredibel.
Fungsi mengetahui komponen demografis adalah untuk menentukan level bahasa dan formalitas, sudut pandang komunikasi sehingga bisa menghindari mismatch (terlalu teknis atau terlalu sederhana).
Misal, saat dengan staf, maka fokus komunikasi kamu lebih ke teknis dan operasional. Sementara jika dengan level manajerial, kamu akan lebih fokus pada strategi dan dampak.
Psikografis
Dengan mengetahui psikografis audiens, kamu jadi akan tahu apa motivasi mereka, value yang mereka pegang, dan kekhawatiran mereka. Dengan begitu, komponen ini bisa digunakan untuk mengetahui apa yang benar-benar dipedulikan oleh audiens.
Misal, pada audiens staf, ketika ada pekerjaan tambahan selalu akan terkait dengan jam kerja yang bertambah dan kemungkinan lembur.