PejuangKantoran.com - Bekerja dari rumah atau work from home (WFH) memang memberi fleksibilitas lebih bagi banyak orang. Namun di balik itu, ada satu hal kecil yang ternyata sering memicu stres tanpa disadari: bunyi notifikasi grup kantor.
Mulai dari pesan mendadak di luar jam kerja, update pekerjaan yang terus masuk, hingga suara notifikasi yang muncul tanpa henti membuat banyak pekerja merasa sulit benar-benar “lepas” dari pekerjaan meski sedang berada di rumah.
Psikolog menyebut kondisi ini berkaitan dengan fenomena hyperconnectivity, yaitu situasi ketika seseorang merasa harus selalu terhubung dan responsif terhadap pekerjaan sepanjang waktu. Akibatnya, otak terus berada dalam mode siaga sehingga memicu stres dan kelelahan mental.
Otak menganggap notifikasi sebagai “alarm”
Menurut sejumlah penelitian, suara notifikasi dapat memicu respons stres kecil di otak, terutama ketika seseorang mengaitkannya dengan tekanan pekerjaan atau tuntutan untuk segera membalas pesan.
Penelitian dari University of California, Irvine menemukan bahwa interupsi digital yang terus-menerus membuat tingkat stres meningkat dan menurunkan kemampuan fokus seseorang. Bahkan setelah notifikasi berhenti, otak membutuhkan waktu untuk kembali berkonsentrasi penuh pada tugas sebelumnya.
Studi lain yang dipublikasikan dalam Journal of Occupational Health Psychology juga menunjukkan bahwa ekspektasi untuk selalu online dan cepat merespons pesan kerja dapat meningkatkan emotional exhaustion atau kelelahan emosional, terutama pada pekerja remote dan hybrid.
Baca Juga: Dokumen Persyaratan bagi Eks WNI yang Ingin Mengajukan Visa Global Citizenship of Indonesia
WFH membuat batas kerja dan kehidupan pribadi makin kabur
Saat bekerja di kantor, seseorang biasanya memiliki batas fisik yang jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Namun ketika WFH, batas tersebut menjadi lebih tipis.
Notifikasi grup kerja yang terus muncul di malam hari atau akhir pekan membuat otak sulit masuk ke mode istirahat. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi kualitas tidur, mood, hingga produktivitas sehari-hari.
Fenomena ini juga dikenal sebagai “always-on culture”, yaitu budaya kerja yang membuat pekerja merasa harus selalu tersedia kapan pun dibutuhkan.
Bukan cuma soal suara notifikasi
Menariknya, stres tidak hanya dipicu oleh bunyi notifikasi itu sendiri, tetapi juga antisipasi terhadap isi pesan yang masuk. Banyak pekerja merasa cemas ketika melihat notifikasi grup kantor karena takut ada pekerjaan mendadak, revisi, atau masalah yang harus segera ditangani.
Akibatnya, tubuh dapat mengalami peningkatan hormon stres seperti kortisol meski pesan tersebut sebenarnya tidak mendesak.
Baca Juga: Bukan Cuma Dark Chocolate, Ini 8 Makanan yang Bisa Bantu Redakan Stres
Cara mengurangi stres akibat notifikasi kerja
Para ahli menyarankan beberapa langkah sederhana untuk membantu menjaga kesehatan mental saat WFH, seperti: