Contohnya, kemampuan bahasa yang lebih bagus, pemahaman teknologi yang lebih baik, modal untuk ikut pelatihan profesional (coaching), atau sekadar tahu apa saja yang biasanya diharapkan oleh perusahaan.
Hal ini jelas merugikan kandidat yang sebenarnya punya keterampilan yang dibutuhkan, tapi kurang paham cara memperbaiki CV-nya agar terlihat lebih meyakinkan.
Dengan beralih dari seleksi berbasis dokumen ke tes kemampuan nyata, proses rekrutmen jadi jauh lebih inklusif dan adil. Pada akhirnya, strategi rekrutmen yang sukses itu bukan soal seberapa cepat lamaran kerja bisa diproses, tapi seberapa dalam perusahaan bisa mengenali potensi asli kamu.